Pernahkah kalian melakukan
perbuatan seperti berzina, mencuri, berjudi, dan tidakah kalian memikirkan
sedetik untuk melakukan tobat,pertobatan manusia sangat ditunggu tunggu oleh
Allah SWT dan jika kita tidak melakukan tobat sungguh sungguh kemudian tidak
mengulanginya lagi dikemudian hari setelah melakukan dosa sungguh mereka manusia
yang rugi dan kekal di Neraka Jahanam
Mengenai tobat ini, Allah
SWT berfirman “ Hai orang orang yang
beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni murninya .... (QS.
AT-Tahrim : 8)
Maksudnya, tobat yang
seseunggunnya baik secara lahir maupun batin agar terhapusadari beragai
kesalahan dan kemaksiatan. Yakni, berupa penyesalan dosa dosa dan kesalahanyang
telah berlalu, dengan berusaha sekuat
tenaga mengerjakan berbagai kewajiban seraya mengajak orang orang yang berbuat
zalim ke jalan yang benar, dan kemudian berbuat baik kepada mereka.
Selanjutnya, berktekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah berlalu dan
senantiasa berusaha berbuat taat kepada Allah swt.
Lebih lanjut, Allah SWT
berfirman : .. mudah mudahan Tuhan kamu
akan menghapusa kesalahan kesalahanmu dan memasukan kamu ke dalam surga yang
mengalirdi bawahnya sungai sungai ... ( QS. At-Tahrim :8). Selain itu, Dia
juga berfirman : ... dan bertobatlah
kalian semua kepada Allah, hai orang orang yang beriman, supaya kalian
beruntung. (QS. An-Nur : 31). Yakni, dengan keimanan yang tulusa dan
keselamatan dari kehinaan dan kemiskinan.
Rasulullah saw. Bersabda :
“wahai sekalian umat manusai, bertobatlah
kalian kepada Allah. Sebab, sesungguhnya aku bertobat kepada Nya seratus kali
dalam satu hari.”
Ketahuilah, Rasulullah
saw. Tetapa memohon ampunan kepada Allah SWT, meskipun beliau telah mendapat
ampunan dari –Nya dan berstatus sebagai seorang yang ma’shum. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan pelajran kepada umatnya.
Abdullah bin Mas’ud r.a
berkata, “ Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa dosanya seakan akan ia duduk
dibawah gunung, takut akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa
dosanya seperti lalat yang terbang dihadapan hidungnya.” Ibn Mas’ud
mengatakanya dengan mengatakan, begini. Maksudnya, ia mengusir lalat itu dengan
tanganya.
Lebih lanjut, ibn Mas’ud
berkata : aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : “ Allah merasa lebih
gembira dengan tobat yang dilakukan oleh hamba – Nya yang beriman daripada
kegembiraan dirasakan oleh seseorang yang singgah di suatu tempat bersama
binatang tungganganya yang mengangkut makan dan minumanya. Lalu orang itu
meletakan keapalanya hingga tertidur sejenak, dan kemudian terbangun, tetapi ia
mendapatkan binatang tungganganya itu sudah tidak bersamanya. Maka ia pun
segera mencari hingga ia benar benar kepanasan dan kehausan. Selanjutnya orang
itu bercerita, ‘Maka aku punkembali lagi ke tempatku semula, lalu aku tidur
hingga mati’. Kemudian ia melatakan kepalanya di lengan hingga mati.
Mahasuci Allah, betapa
Allah SWT sangat menyayangi hamba hamba – Nya dan mencintainya. Dia benar benar
ridha dengan tobat hamba – Nya, padahal manfaat dari tobat itu kembali kepada
pelakunya.
Betapa membatunya hati
seorang hamba. Bahkan sangat bodoh, jika ia tidak juga bertobat atas dosa dosa
yang telah dikerjakanya. Oleh karena itu, hendaklah umat manusai segera
bertobat dan mewujudkan berbagai konsekuensinya, agar mereka selamat dari murka
dan siksaan Allah SWT, maupun neraka Jahanam. Juga, selmat dari kebinasaan .
Selain itu, agar mereka mendapatkan kebahagiaan dan kedekatan dengan pintu
rahmat, serta mendapatkan keridhaan dan surga-Nya.
Tobat merupakan suatu
kewajiban. Hal hal yang sunat tidak akan diterima sebelum kewajiban dikerjakan.
Dan tobat itu tidak cukup hanya dengan merasa takut terhadap perbuatan dosa,
tetapi ia harus benar benar diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan.
Diriwayatkan oleh Ahmad
‘Ali r.a. dari Nabi saw., bahwa beliau
bersabda: “sesunggunya Allah menyukai hamba Mukmin yang berbuat dosa, lalu
banyak bertobat.”
Dan diceritakan oleh
sebagian syaikh, bahwa mereka bertobat sebanyak tujuh puluh kali dan berbuat
kesalhan sebanyak tujuh puluh kali pula, hingga kahirnya ia benar benar tegak
dengan tobatnya pada kali yang jetujuh puluh satu. Diceritakan pula, ada sebagian
orang yang bertobat, lalu ia berbuat maksiat lahi,kemudian ia menyesal, dan
terdetik di dalam benaknya untuk segera kembali bertobat.
Oleh karenya, hendaknya
setiap umat manusai ini segera bertobat dengan merasakan penyesalan serta
bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Jika tobatnya benar benar sempurna,
maka demikian itulah yang diharapkan. Kali pun tidak, maka Allah SWT akan
mengampuni dosa dosanya yang telah berlalau. Sehingga tidak ada dosa padanya,
kesuali hanya dosa dosa yang akan terjadi.
Hendaklah orang mukmin
memberikan batasan tobat dari suatu perbuatan tertentu, seraya mengatakan, “
seadnainya aku mati sebelum mengerjakanya lagi.” Demikian juga dengan perbuatan
dosa lainya. Dan hendaklah ia menjadikan tobat sebagai kebiasaan, sebagiamana
ia telah menjadikan kemaksiatan sebagai kebiasaan.
Selai itu, hendaklah ia
memahami bahwa siksa akhirat lebih pedih dan abadi daripada dunia dan seisinya.
Dan hendaklah ia bersungguh sungguh dalam mengerjakanya, karea kematian itu
merupakan suatu yang mutlak terjadi. Dan manusia itu sendiri juga tidak akan
pernah tahu kapan kematian itu terjadi.
Dan ia harus berusaha
keras untuk segera bertobat kapan dan dimana saja. Sebab, modal utma seorang
Mukmin adalah iman. Dan iman akan dapat hilang dengan hilangnya tobat dan
menumpuknya perbuatan dosa. Hal ini menyebabkan seseorang akan tinggal di
neraka Jahanam untuk selamanya, sebagaimana Iblis dan Bal’am. Awal mula dosa
dan berakhir dengan kekufuran dan kesengsaraan. Mudah mudahan Allah SWT
melindungi kita semua darinya.
Dan di dalam kitabn raudhur Rayyahin, Abu Ishaq Al Fazari
menyebutkan,”Ada seorang laki laki yang banyak duduk menghadap kami, sedangkan
setengah wajahnya tertutu. Lalu kukatakan kepadanya, “sesunggunya engkau banyak
duduk, untuk apa mendatangi aku, sedangkan setengah wajahmu tertutup.
Perlihatkan bagian setengah wajahmu!’. Maka ia pun berkata,’Tapi engaku harus
memberi keamanan padaku’. ‘Baiklah,’sahutku.
Kemudian ia berkata,’Dulu
aku pernah mengubur seorang wanita. Lalu aku mendatagi kuburanya dan
membongkarnya. Akhirnya, aku sampai pada bagian susu (payudara), kmudian aku
mengangkat susu itu. Setelah itu, aku membuka kain rida’ dan kain pembungkusnya, lalu menariknya. Tiba tiba, ia
sendiri yang menariknya. Kemudian aku duduk berlutut, lalu menarik kainya dan
mengangkat tanganya. Namun tiba tiba tanganya menempeleng wajahku’.
Maka orang itu pun membuka
wajahnya dan ternyata terdaoat bekas lima jari menempel di wajahnya.
Selanjutnya aku katakan padanya,’Selanjutnya bagaimana?’ Ia pun melanjutkan ceritanya,’Kemudian
aku mengembalikan kain pembungkusnya, lalu mengembalikan tanah kuburanya itu.
Selanjutnya, aku bersumpah pada diri sendiri untuk dapat membongkat kuburan
lagi selama hidupku.’
Setelah itu,
lanjutnya,’Aku mengirimkan surat kepada Al Auza i menceritakan masalah itu.
Maka Al Auza i membalas suratku seraya berkata,’ Celaka kamu.Tanyakan tentang
orang yang meninggal dunia itu kepada kalangan penganut ajaran tauhid, dan
menghadaplah ke kiblat,’Kemudian aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka
ia menjawab,’Kebanyakan mereka memalingkan wajahnya dari arah kiblat.’
Selanjutnya,’Aku menulis
surat lagi kepada Al Auza i . Dan ia pun membalasnya seraya berkata
kepadaku,’Inalillahi Wainnailaihi Raji un (Sesunggun ya kita berasal dari Allah
dan akan kembali kepada Nya) (sebanyak 3x). Orang yang memalingkan wajahnya
dari arah kiblat, maka ia telah meninggal dunia dalam keadaan tidak sesuai
dengan ajaran Sunnah’.
Al Yafi’i mengatakan,
“Mungkin yang dimaksud Sunnah di sini oleh Imam Al Auza i adalah Islam. Tetapi
makna yang sesungguhnya, hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas, terus menerus
mengulangi kemaksiatan akan menyeret pelakunya mati dalam keadaan kafir. Mudah
mudahan Allah melindungi kita dari yang demikian itu.
Imam Ghazali
mengungkapkan, bahwa iman itu seperti manusia, dan hilangnya kesaksian tauhid
itu seperti hilangnya tung yang tidak lain adalah seperti buta dan kehilangan
seluruh anggota tubuhnya, baik yang lahir maupun batin, kesualai pokok ruh
saja. Orang yang keadaanya seperti itu sudah sangat dekat dengan kematian. Maka
seperti itu pula keadaan orang yang tidak menyimpan iman, dan hanya terfokus
pada amal perbuatan, di mana keadaan imanya sangat rapuh dan akan tumbang jika
diterpa oleh angin topan sesaat sebelum kedatangan malaikat maut.
Dengan demikian, setiap
keimanan yang tidak ditanam di atas keyakinan dan tidak berkembang dalam amal
perbuatan,ia akan mengalami kegoncangan pada saat menghadapi kedatangan
malaikat maut, dan bahkan cenderung akan menerima predikat su’ul khatimah. Kecuali, jika keimanan itu dipelihara dan disirami
dengan air ketaatan sepanjang zaman, sehingga iman itu benar benar tertanam
dengan kuat dan kokoh di dasar yang sangat dalam.
Mari segrelah bertobat
sebelum ajal menjemput, jangan sampai siksa neraka dan zab akhirat menimpa.
Ya Allah, selamatkanlah
kami dari api nerakaMU yang menyala berkobar kobar. Perbaikilah Lahiriah dan
Batiniah kami. Anugerahkanlah kepada kami surga serta limpahkanlah karuniaMU
serta pindahkan kamu dari kehinaan bermaksiat menuju ke kemuliaan ketaatan.
AMIN