Kamis, 10 November 2016

Mari Bertobat




Hasil gambar untuk bertobat

Pernahkah kalian melakukan perbuatan seperti berzina, mencuri, berjudi, dan tidakah kalian memikirkan sedetik untuk melakukan tobat,pertobatan manusia sangat ditunggu tunggu oleh Allah SWT dan jika kita tidak melakukan tobat sungguh sungguh kemudian tidak mengulanginya lagi dikemudian hari setelah melakukan dosa sungguh mereka manusia yang rugi dan kekal di Neraka Jahanam

Mengenai tobat ini, Allah SWT berfirman “ Hai orang orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni murninya .... (QS. AT-Tahrim : 8)

Maksudnya, tobat yang seseunggunnya baik secara lahir maupun batin agar terhapusadari beragai kesalahan dan kemaksiatan. Yakni, berupa penyesalan dosa dosa dan kesalahanyang telah berlalu,  dengan berusaha sekuat tenaga mengerjakan berbagai kewajiban seraya mengajak orang orang yang berbuat zalim ke jalan yang benar, dan kemudian berbuat baik kepada mereka. Selanjutnya, berktekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah berlalu dan senantiasa berusaha berbuat taat kepada Allah swt.

Lebih lanjut, Allah SWT berfirman : .. mudah mudahan Tuhan kamu akan menghapusa kesalahan kesalahanmu dan memasukan kamu ke dalam surga yang mengalirdi bawahnya sungai sungai ... ( QS. At-Tahrim :8). Selain itu, Dia juga berfirman : ... dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, hai orang orang yang beriman, supaya kalian beruntung. (QS. An-Nur : 31). Yakni, dengan keimanan yang tulusa dan keselamatan dari kehinaan dan kemiskinan.

Rasulullah saw. Bersabda : “wahai sekalian umat manusai, bertobatlah kalian kepada Allah. Sebab, sesungguhnya aku bertobat kepada Nya seratus kali dalam satu hari.”
Ketahuilah, Rasulullah saw. Tetapa memohon ampunan kepada Allah SWT, meskipun beliau telah mendapat ampunan dari –Nya dan berstatus sebagai seorang yang ma’shum. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pelajran kepada umatnya.

Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “ Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa dosanya seakan akan ia duduk dibawah gunung, takut akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa dosanya seperti lalat yang terbang dihadapan hidungnya.” Ibn Mas’ud mengatakanya dengan mengatakan, begini. Maksudnya, ia mengusir lalat itu dengan tanganya.

Lebih lanjut, ibn Mas’ud berkata : aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : “ Allah merasa lebih gembira dengan tobat yang dilakukan oleh hamba – Nya yang beriman daripada kegembiraan dirasakan oleh seseorang yang singgah di suatu tempat bersama binatang tungganganya yang mengangkut makan dan minumanya. Lalu orang itu meletakan keapalanya hingga tertidur sejenak, dan kemudian terbangun, tetapi ia mendapatkan binatang tungganganya itu sudah tidak bersamanya. Maka ia pun segera mencari hingga ia benar benar kepanasan dan kehausan. Selanjutnya orang itu bercerita, ‘Maka aku punkembali lagi ke tempatku semula, lalu aku tidur hingga mati’. Kemudian ia melatakan kepalanya di lengan hingga mati.

Mahasuci Allah, betapa Allah SWT sangat menyayangi hamba hamba – Nya dan mencintainya. Dia benar benar ridha dengan tobat hamba – Nya, padahal manfaat dari tobat itu kembali kepada pelakunya.

Betapa membatunya hati seorang hamba. Bahkan sangat bodoh, jika ia tidak juga bertobat atas dosa dosa yang telah dikerjakanya. Oleh karena itu, hendaklah umat manusai segera bertobat dan mewujudkan berbagai konsekuensinya, agar mereka selamat dari murka dan siksaan Allah SWT, maupun neraka Jahanam. Juga, selmat dari kebinasaan . Selain itu, agar mereka mendapatkan kebahagiaan dan kedekatan dengan pintu rahmat, serta mendapatkan keridhaan dan surga-Nya.

Tobat merupakan suatu kewajiban. Hal hal yang sunat tidak akan diterima sebelum kewajiban dikerjakan. Dan tobat itu tidak cukup hanya dengan merasa takut terhadap perbuatan dosa, tetapi ia harus benar benar diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan.

Diriwayatkan oleh Ahmad ‘Ali r.a. dari Nabi saw.,  bahwa beliau bersabda: “sesunggunya Allah menyukai hamba Mukmin yang berbuat dosa, lalu banyak bertobat.”

Dan diceritakan oleh sebagian syaikh, bahwa mereka bertobat sebanyak tujuh puluh kali dan berbuat kesalhan sebanyak tujuh puluh kali pula, hingga kahirnya ia benar benar tegak dengan tobatnya pada kali yang jetujuh puluh satu. Diceritakan pula, ada sebagian orang yang bertobat, lalu ia berbuat maksiat lahi,kemudian ia menyesal, dan terdetik di dalam benaknya untuk segera kembali bertobat.

Oleh karenya, hendaknya setiap umat manusai ini segera bertobat dengan merasakan penyesalan serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Jika tobatnya benar benar sempurna, maka demikian itulah yang diharapkan. Kali pun tidak, maka Allah SWT akan mengampuni dosa dosanya yang telah berlalau. Sehingga tidak ada dosa padanya, kesuali hanya dosa dosa yang akan terjadi.

Hendaklah orang mukmin memberikan batasan tobat dari suatu perbuatan tertentu, seraya mengatakan, “ seadnainya aku mati sebelum mengerjakanya lagi.” Demikian juga dengan perbuatan dosa lainya. Dan hendaklah ia menjadikan tobat sebagai kebiasaan, sebagiamana ia telah menjadikan kemaksiatan sebagai kebiasaan.

Selai itu, hendaklah ia memahami bahwa siksa akhirat lebih pedih dan abadi daripada dunia dan seisinya. Dan hendaklah ia bersungguh sungguh dalam mengerjakanya, karea kematian itu merupakan suatu yang mutlak terjadi. Dan manusia itu sendiri juga tidak akan pernah tahu kapan kematian itu terjadi.

Dan ia harus berusaha keras untuk segera bertobat kapan dan dimana saja. Sebab, modal utma seorang Mukmin adalah iman. Dan iman akan dapat hilang dengan hilangnya tobat dan menumpuknya perbuatan dosa. Hal ini menyebabkan seseorang akan tinggal di neraka Jahanam untuk selamanya, sebagaimana Iblis dan Bal’am. Awal mula dosa dan berakhir dengan kekufuran dan kesengsaraan. Mudah mudahan Allah SWT melindungi kita semua darinya.

Dan di dalam kitabn raudhur Rayyahin, Abu Ishaq Al Fazari menyebutkan,”Ada seorang laki laki yang banyak duduk menghadap kami, sedangkan setengah wajahnya tertutu. Lalu kukatakan kepadanya, “sesunggunya engkau banyak duduk, untuk apa mendatangi aku, sedangkan setengah wajahmu tertutup. Perlihatkan bagian setengah wajahmu!’. Maka ia pun berkata,’Tapi engaku harus memberi keamanan padaku’. ‘Baiklah,’sahutku.

Kemudian ia berkata,’Dulu aku pernah mengubur seorang wanita. Lalu aku mendatagi kuburanya dan membongkarnya. Akhirnya, aku sampai pada bagian susu (payudara), kmudian aku mengangkat susu itu. Setelah itu, aku membuka kain rida’ dan kain pembungkusnya, lalu menariknya. Tiba tiba, ia sendiri yang menariknya. Kemudian aku duduk berlutut, lalu menarik kainya dan mengangkat tanganya. Namun tiba tiba tanganya menempeleng wajahku’.

Maka orang itu pun membuka wajahnya dan ternyata terdaoat bekas lima jari menempel di wajahnya. Selanjutnya aku katakan padanya,’Selanjutnya bagaimana?’ Ia pun melanjutkan ceritanya,’Kemudian aku mengembalikan kain pembungkusnya, lalu mengembalikan tanah kuburanya itu. Selanjutnya, aku bersumpah pada diri sendiri untuk dapat membongkat kuburan lagi selama hidupku.’

Setelah itu, lanjutnya,’Aku mengirimkan surat kepada Al Auza i menceritakan masalah itu. Maka Al Auza i membalas suratku seraya berkata,’ Celaka kamu.Tanyakan tentang orang yang meninggal dunia itu kepada kalangan penganut ajaran tauhid, dan menghadaplah ke kiblat,’Kemudian aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka ia menjawab,’Kebanyakan mereka memalingkan wajahnya dari arah kiblat.’

Selanjutnya,’Aku menulis surat lagi kepada Al Auza i . Dan ia pun membalasnya seraya berkata kepadaku,’Inalillahi Wainnailaihi Raji un (Sesunggun ya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya) (sebanyak 3x). Orang yang memalingkan wajahnya dari arah kiblat, maka ia telah meninggal dunia dalam keadaan tidak sesuai dengan ajaran Sunnah’.

Al Yafi’i mengatakan, “Mungkin yang dimaksud Sunnah di sini oleh Imam Al Auza i adalah Islam. Tetapi makna yang sesungguhnya, hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas, terus menerus mengulangi kemaksiatan akan menyeret pelakunya mati dalam keadaan kafir. Mudah mudahan Allah melindungi kita dari yang demikian itu.

Imam Ghazali mengungkapkan, bahwa iman itu seperti manusia, dan hilangnya kesaksian tauhid itu seperti hilangnya tung yang tidak lain adalah seperti buta dan kehilangan seluruh anggota tubuhnya, baik yang lahir maupun batin, kesualai pokok ruh saja. Orang yang keadaanya seperti itu sudah sangat dekat dengan kematian. Maka seperti itu pula keadaan orang yang tidak menyimpan iman, dan hanya terfokus pada amal perbuatan, di mana keadaan imanya sangat rapuh dan akan tumbang jika diterpa oleh angin topan sesaat sebelum kedatangan malaikat maut.

Dengan demikian, setiap keimanan yang tidak ditanam di atas keyakinan dan tidak berkembang dalam amal perbuatan,ia akan mengalami kegoncangan pada saat menghadapi kedatangan malaikat maut, dan bahkan cenderung akan menerima predikat su’ul khatimah. Kecuali, jika keimanan itu dipelihara dan disirami dengan air ketaatan sepanjang zaman, sehingga iman itu benar benar tertanam dengan kuat dan kokoh di dasar yang sangat dalam.

Mari segrelah bertobat sebelum ajal menjemput, jangan sampai siksa neraka dan zab akhirat menimpa.
Ya Allah, selamatkanlah kami dari api nerakaMU yang menyala berkobar kobar. Perbaikilah Lahiriah dan Batiniah kami. Anugerahkanlah kepada kami surga serta limpahkanlah karuniaMU serta pindahkan kamu dari kehinaan bermaksiat menuju ke kemuliaan ketaatan. AMIN