Kisah Nabi Nuh ada 2 Versi menurut keyakinan yaitu versi ISLAM dan K|RISTEN
ISLAM
Sekarang papa mimin masuk ke AL Quran, bagaimana
Al-Qur’an memberikan ‘sinyal-sinyal’ berupa informasi tentang
perkembangan peradaban umat manusia ini..?? Al-Qur’an juga memuat
cerita tentang banjir besar nabi Nuh, namun tidak menyatakan
keberpihakannya kepada banjir yang memusnahkan seluruh peradaban,
bahkan memusnahkan seluruh binatang-binatang. kisah nabi Nuh terdapat
pada 11 kelompok ayat Al-Qur’an, dan soal binatang yang naik ke
bahtera, terdapat pada 2 kelompok ayat :
hattaa idzaa
jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru qulnaa ihmil fiihaa min kullin
zawjayni itsnayni wa-ahlaka illaa man sabaqa ‘alayhi alqawlu waman
aamana wamaa aamana ma’ahu illaa qaliilun[11:40] Hingga apabila
perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman:
“Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang
(jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu
ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan
tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.
fa-awhaynaa
ilayhi ani ishna’i alfulka bi-a’yuninaa wawahyinaa fa-idzaa jaa-a
amrunaa wafaara alttannuuru fausluk fiihaa min kullin zawjayni itsnayni
wa-ahlaka[23:27] Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di
bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah
datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam
bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu,
‘min
kullin zawjayni’ artinya ‘dari masing-masingnya sepasang’, namun
terjemahan Al-Qur’an 11:40 kembali melakukan interpolasi ayat menjadi
‘masing-masing binatang sepasang’. Quraish Shihab terlihat membenarkan
soal binatang ini, sebaliknya Sayyid Qutb, mengatakan bahwa menafsirkan
kata ‘sepasang’ sebagai binatang adalah berbau Israilliyat, namun
beliau tidak memberikan alternatifnya dan menganggap sebagai hal yang
ghaib (Tafsir Fizhilalil Qur’an jilid 6). Temuan arkeologis menyatakan
tidak ada pergerakan penyebaran binatang mulai dari gajah sampai tikus
berasal dari satu tempat, maka hal ini juga tidak bisa kita abaikan
untuk membenarkan penafsiran yang dipengaruhi alkitab (Kejadian 8:17)
tersebut.
Al-Qur’an juga tidak menjelaskan soal adanya
penyebaran manusia dan peradaban setelah banjir besar tersebut, ayat
yang ‘dekat’ dengan hal tersebut berbunyi :
waja’alnaa dzurriyyatahu humu albaaqiina[37:77] Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.
Ketika
pikiran kita sudah dimasuki cerita alkitab soal nabi Nuh (Kejadian
10), maka ayat tersebut akan mengarahkan pikiran kita bahwa umat
manusia memang tersebar bermula dari anak keturunan nabi Nuh,
Sebenarnya ayat tersebut adalah ayat yang bersifat netral, karena kalau
kita merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang lain :
laqad arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi[7:59] Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya..
alam
ya/tihim nabau alladziina min qablihim qawmi nuuhin wa’aadin
watsamuuda waqawmi ibraahiima wa-ash-haabi madyana
waalmu/tafikaati[9:70] Belumkah datang kepada mereka berita penting
tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad,
Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah
musnah?
Ayat ini menjelaskan kesejajaran kaum nabi Nuh
dengan kaum lainnya, sehingga QS [37:77] bisa juga diartikan maksud
‘melanjutkan keturunan’ adalah dalam lingkup kaum nabi Nuh sendiri,
bukan menyatakan penyebarannya keseluruh penjuru dunia. Namun sekali
lagi Al-Qur’an ‘bersikap netral’ dalam hal ini.
Kunci
untuk mengetahui penyebaran peradaban ini sebenarnya ada pada
sumber-sumber yang menjelaskan sejarah pada kurun waktu dari nabi Adam
sebagai manusia pertama kepada nabi Nuh. Beberapa pendapat menyatakan
bahwa jangka waktu antara nabi Adam dengan nabi Nuh sangatlah panjang
melingkupi rentang ratusan ribu bahkan jutaan tahun, sehingga ketika
jaman banjir besar nabi Nuh, umat manusia sudah tersebar keseluruh
penjuru dunia, menjadi kelompok-kelompok primitif, lalu beradaptasi
dengan alam lingkungannya. Ketika banjir besar nabi Nuh selesai dan anak
keturunannya menyebar ke seluruh dunia. namun sekali lagi, ini
bukanlah kesimpulan yang diambil dari Al-Qur’an, kebenaran teori ini
mungkin akan bisa diungkapkan kemudian setelah makin banyaknya
ditemukan artefak dan peninggal kuno yang akan membenarkan, ataupun
mementahkannya.
Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan soal
kurun waktu ini. Kisah nabi Nuh dan beberapa ‘sinyal’ sejarahnya
merupakan kisah yang pertama dari umat manusia yang diceritakan
Al-Qur’an secara lengkap. Memang terdapat 7 kelompok ayat yang
menceritakan tentang kisah nabi Adam, QS [2:30-38, QS [7:11-30],
QS[15:28-43], QS[17:61- 65], QS [18:50], QS[20:115-123], QS[38:71-85],
namun sangat sedikit informasi tentang bagaimana kehidupan nabi Adam
setelah diturunkan kedunia. Pengisahan tentang Adam dalam Al-Qur’an
terfokus kepada : (1) pembangkangan Iblis dan ikrarnya untuk
menjerumuskan manusia serta (2) informasi tentang penciptaan nabi Adam.
Terdapat juga ayat lain tentang kehidupan manusia sebelum nabi Nuh,
yaitu kisah tentang anak-anak nabi Adam QS[5:27-31] namun itupun tidak
menginformasikan tentang lokasi ataupun penggambaran lingkungan, tidak
seperti pengisahan nabi Nuh dan nabi-nabi lainnya. Al-Qur’an
kelihatannya ‘membuka diri’ agar manusia melakukan penelitian sendiri
tentang sejarah peradaban sebelum jaman nabi Nuh.
Terdapat
satu ‘sinyal’ lagi yang diberikan Al-Qur’an tentang masa antara nabi
Adam dam nabi Nuh ini, yaitu penyebutan adanya seorang nabi bernama
Idris :
waudzkur fii alkitaabi idriisa innahu kaana
shiddiiqan nabiyyaan warafa’naahu makaanan ‘aliyyaan ulaa-ika
alladziina an’ama allaahu ‘alayhim mina alnnabiyyiina min dzurriyyati
aadama wamimman hamalnaa ma’a nuuhin wamin dzurriyyati ibraahiima
wa-israa-iila[19:56] Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka,
kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah
seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. [19:57] Dan Kami
telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [19:58] Mereka itu adalah
orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari
keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan
dari keturunan Ibrahim dan Israil,
wa-ismaa’iila
wa-idriisa wadzaa alkifli kullun mina alshshaabiriina wa-adkhalnaahum
fii rahmatinaa innahum mina alshshaalihiina[21:85] Dan (ingatlah kisah)
Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang
sabar. [21:86] Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami.
Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.
Nabi
Idris adalah nabi yang hidup sebelum jaman nabi Nuh, cerita alkitab
mempengaruhi penafsiran bahwa Idris adalah Enokh (Kejadian 5). Sayyid
Qutb menafsirkannya dengan nama salah satu tokoh Mesir kuno, yaitu
Uzuris. Satu tokoh yang sama penggambarannya dengan Enokh, yang naik
kelangit dan hidup disana, namun Sayyid Qutb tidak memastikan hal ini.
Cerita Israilliyat ini kelihatannya mempengaruhi sementara ahli tafsir
yang mengatakan bunyi QS 19:57 diartikan secara harfiah. Sumber-sumber
Islam sendiri tidak banyak memberikan penjelasan tentang nabi Idris ini,
ada satu hadist riwayat ath-Thabarani melalui Ummu Salamah yang
menyatakan nabi Idris berteman dengan malaikat maut dan memasuki neraka
dan surga ketika masih hidup. Namun perawi hadist ini terdapat nama
Ibrahim Ibn Abdullah al-Mashishi, yang dikategorikan oleh para peneliti
hadist sebagai pembohong dan pendusta.
Sebenarnya kita
bisa bertanya-tanya : Apa maksud Al-Qur’an yang menyatakan bahwa nabi
Idris adalah ‘seorang yang sangat membenarkan’..?? Ketika sahabat
Rasulullah, Abu Bakar dijuluki ’siddiq’ - orang yang membenarkan,
objeknya jelas yaitu Rasulullah sendiri, yaitu Abu bakar adalah sahabat
yang selalu membenarkan apapun pernyataan yang dikeluarkan Rasulullah,
termasuk cerita nabi tentang perjalanan Isra’Mi’raj-nya, ketika banyak
orang, bahkan umat Islam lain yang meragukannya, Abu Bakar tanpa
‘pikir panjang’ membenarkannya. Mengapa Al-Qur’an memberikan penekanan
sifat ini kepada nabi Idris..?? apa atau siapa yang telah dibenarkan
olehnya..?? Ini mungkin sinyal yang diberikan Al-Qur’an untuk mencari
hubungan adanya cerita nabi Nuh dengan fakta arkeologis tentang kelompok
manusia yang sudah menyebar ketika itu…
KRISTEN
Alkitab memang menyatakan ‘keberpihakannya’ terhadap
banjir besar di jaman nabi Nuh yang menghancurkan seluruh kehidupan di
dunia (kecuali orang-orang yang ada diatas kapal) , setelah banjir
selesai anak keturunan nabi Nuh menyebar keseluruh penjuru dunia
berkembang menjadi manusia dan peradaban yang ada saat ini (Kejadian
10). Bahkan alkitab juga menyampaikan banjir tersebut bukan hanya
melenyapkan seluruh umat manusia namun juga binatang, makanya bahtera
nabi Nuh diisi oleh segala macam binatang, mulai dari gajah sampai
cacing. Ketika banjir selesai, segala binatang yang ikut jadi penumpang
tersebut menyebar ke seluruh dunia dan berkembang biak (Kejadian
8:17). Sejarah perkembangan manusia dari terciptanya manusia pertama,
Adam dan Hawa berkembang secara linier dan tidak menyebar, hanya
berkembang kepada kaum nabi Nuh. Ketika alkitab menceritakan Adam dan
hawa diusir dari taman Eden yang berlokasi di sekitar Babilonia, Tuhan
mengusir mereka kearah timur (Kejadian 3:24) lalu Adam dan Hawa
beranak-pinak, disebut juga waktu itu anak-anak mereka sudah punyai
profesi; Habel menjadi pengembala dan Kain jadi petani (Kejadian 4:2).
Setelah Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8) umat manusia berkembang
melalui keturunan Kain (Kejadian 4:17-24) sampai kepada Tubal-kain dan
Laama, namun alkitab tidak mencantumkan berapa lama rentang waktu
antara Kain kepada Tubal-Kain dan Lamaa. Sampai disini perkembangan
manusia lewat jalur Kain tidak diteruskan. Disisi lain, lewat jalur
Adam dan Hawa manusia berkembang secara linier sampai kepada nabi Nuh
dalam rentang waktu 1271 tahun (Kejadian 5). Dari kedua jalur tersebut
ada 1 nama yang sama yaitu Enokh, tidak dijelaskan apakah itu merupakan
orang yang sama atau tidak,
Ketika Tuhan akan menimpakan banjir
besar terhadap manusia, alasan yang dikemukakan adalah karena Tuhan
menyesal telah menciptakan manusia mengingat kejahatan yang dilakukan
manusia ketika itu, dan akan menghapus mereka semua (Kejadian 6:5-7) ,
kecuali nabi Nuh (Kejadian 6:8). Setelah semuanya musnah, Tuhan lalu
‘berfirman dalam hati’ untuk tidak lagi mengutuk manusia dan akan
menjaga bumi (Kejadian 8:21-22). Alkitab secara jelas menyatakan
penyebaran umat manusia dimulai dari anak keturunan nabi Nuh (Kejadian
9:19, 10:32). Disini muncul pertanyaan : bagaimana nasibnya dengan anak
keturunan Kain..?? apakah mereka menyebar juga ke seluruh dunia..??
apakah mereka ikut musnah dalam banjir besar..??. Pernyataan alkitab
soal banjir besar yang meluluh-lantakkan semua makhluk di bumi dalam
pernyataan yang jelas tentang manusia yang berkembang melalui anak-anak
nabi Nuh memberikan kesan bahwa semua anak keturunan dari Kain ikut
musnah dalam banjir besar.
Namun kita tidak bisa
mengabaikan fakta tentang adanya temuan arkeologis, bahwa ternyata
diluar kisah banjir nabi Nuh tersebut pada kurun waktu yang sama,
ditemukan adanya peradaban lain yang masih berjalan. Peradaban Mesir dan
Mesopotamia sudah dimulai sejak jaman Neolotikum (8000 – 7000 SM) dan
masih terus berlanjut sampai pada masa setelah banjir besar (thn 4000
SM).
Di Indonesia sendiri juga ditemukan artefak peralatan
pertanian dan berburu pada jaman yang sama, jauh sebelum anak
keturunan nabi Nuh melalui rumpun bangsa Mongol beremigrasi ke wilayah
Nusantara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar