Kai Luhr tampak paling beda. Kai yang bersujud diantara
pria-pria lain bercambang yang mengenakan baju tunik putih saat menunduk
ke arah Mekkah, terlihat bersih dengan wajah tercukur rapi. Ia
mengenakan jins dan jaket abu-abu. Kai Luhr adalah seorang dokter
praktek di Jerman. Ia beralih memeluk Islam bersama istrinya dua
setengah tahun lalu. Sejak itu ia mengganti nama menjadi Kai Ali Rashid,
sementara sang istri berganti menjadi Katrin Aisha Luhr.
Kedua pasangan itu sempat tampil dalam sebuah wawancara di televisi swasta 3sat. Dalam wawancara Katrin
Luhr mengatakan sebelum mendapat kehormatan berupa hidayah memeluk
Islam, ia merasa jiwanya kosong. Ia mengaku pergi ke gereja dari waktu
ke waktu namun gagal menemukan jawaban yang ia cari. Kini ia menyatakan
tak pernah menemukan kegembiraan seperti ini sebelumnya, juga jawaban
terhadap pertanyaan di benaknya. Ia juga menikmati setiap perubahan
bermanfaat yang ia rasakan setelah memeluk Islam.
“Saya
menyesal tidak dari dulu mengenal Islam. Kalau saja orang Jerman
mendapat informasi yang benar tentang Islam, mereka akan mudah masuk
Islam,” kata Kai Lühr dalam pernyataannya di televisi. Mereka
memutuskan masuk Islam setelah mempelajari al-Qur’an terjemahan dalam
bahasa Jerman. Kini, keluarga Lühr telah menjadi Muslim yang taat.
Di
kalangan masyarakat Jerman, kelompok yang berprofesi dokter seperti
keluarga Lühr merupakan simbol kelas menengah. Mereka saat ini sedang
menjadi sorotan publik. Bukan soal kekayaan atau tekanan politik mereka
terhadap pemerintah. Tapi karena mereka sedang berbondong-bondong masuk
Islam. Perkembangan Islam di Jerman saat ini boleh dibilang sedang
memasuki sebuah babak baru. Keluarga Lühr adalah salah satu dari ribuan
orang Jerman yang tiap tahun masuk Islam pada lima tahun terakhir ini.
Sebut saja beberapa orang misalnya Nils von Bergner,
pengacara muda 36 tahun yang tinggal di kota Hamburg, telah menetapkan
pilihannya untuk masuk Islam. Kini, Bergner tidak pernah absen
menjalankan shalat lima waktu meskipun harus dengan menggelar sajadah di
kantornya. Ada juga dari kalangan akademisi seperti Nina Mühe, ahli
Etnologi dari Universitas Berlin. Juga Silvia Horch dosen Jurusan Sastra
Jerman- Arab. Dan masih banyak lagi. Mereka semua telah berketetapan
hati untuk masuk Islam.
Realitas sosial semakin banyaknya
yang menjadi mualaf itu rupanya menarik perhatian kantor Menteri Dalam
Negeri Pemerintah Federal Jerman. Akhirnya, kementerian meminta lembaga ‘Das Islam Archiv’
untuk melakukan penelitian terkait dengan fenomena ini. Hasilnya memang
cukup mencengangkan. Menurut penelitian yang sempat dipublikasikan
Harian Hamburger Abendblatt edisi 29 Januari 2007. Selama satu tahun
saja, terhitung Juli 2005 sampai Juni 2006 misalnya, orang Jerman yang
masuk Islam sekitar 4.000 orang. Angka ini semakin meningkat pada tahun
berikutnya. Tidak lagi 4.000 tiap tahun, tapi menjadi sekitar 6.000
orang per tahun.
Bunuh dirinya seorang Pensiunan Pendeta
Perkembangan
Islam yang pesat di jerman ini sempat menimbulkan ‘sikap frustasi’
seorang pensiunan pendeta di Jerman yang akhirnya bunuh diri.
Sebagaimana yang diberitakan oleh Timesonline, Seorang pensiun pendeta, Roland Weisselberg,
(73) berkomitmen bunuh diri dengan membakar dirinya atas protes
penyebaran Islam dan ketidakmampuan Gereja Protestan untuk menahannya.
Roland
Weisselberg, menuangkan sekaleng bensin di atas kepalanya dan membakar
dirinya di lapangan biara Augustinus di timur kota Erfurt, dimana Martin Luther (sang pendiri protestan) menghabiskan enam tahun sebagai seorang biarawan pada awal abad ke-16.
Pihak
keamanan Erfurt, Elfriede Begrich, memberitahukan kepada para wartawan
bahwa janda Weisselberg mengatakan suaminya bunuh diri dia karena
khawatir tentang penyebaran Islam dan sikap Gereja mengenai masalah
ini.
Dan saat ini Kaum Muslim di Jerman bernaung di salah satu lembaga Islam terbesar bernama Zentralrat Muslim Deutschlands (ZMD)
atau Dewan Pusat Muslim Jerman. Selain memberikan layanan pembelajaran
tentang Islam, ZMD juga rajin memberikan advokasi atas kejadian-kejadian
yang dihadapi oleh Muslim di Jerman.
sumber,
Hidayatullah
republika
http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/europe/article623634.ece (Priest burns himself to death over Islam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar