Minggu, 30 Agustus 2015

Derajat di Surga dan Posisinya

Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa surga memiliki banyak derajat. Di sana, juga terdapat perbedaan derajat di antara para hamba Allah yang semuanya bergantung pada amal mereka dan Allah-lah yang telah mendatangkan amal tersebut.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menegakkan shalat, berpuasa di bulan Ramadlan, berjuang di jalan Allah, atau tinggal di tanah kelahirannya, menjadi hak Allah untuk memasukkan orang tersebut ke dalam surga.” Shahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah tidak seharusnya kita memberi kabar gembira kepada manusia?” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah, sedangkan jarak di antara tingkat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin memohon kepada Allah, mohonlah surga firdaus karena surga firdaus berada di tengah-tengah surga dan merupakan surga tertinggi.”
Abu Hurairah mendengar Rasulullah bersabda, “Surga firdaus beradadi atas ‘Arsy Allah dan di sanalah sungai-sungai surga mengalir.”
Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih dari Anas bin Malik bahwa Ummu Haritsah datang menghadap Rasulullah saw. sedangkan Haritsah termasuk mujahid yang gugur dalam perang Badar karena terkena anak panah. Lalu, Ummu Haritsah berkata, “Wahai Rasulallah, sungguh saya telah berbuat untuk Haritsah dari hati saya. Jika ia sekarang di surga, saya tidak akan menangis untuknya. Namun jika ternyata tidak, engkau akan melihat apa yang aku perbuat.” Rasulullah menjawab, “Apakah surga hanya satu? Surga itu banyak sekali, sedangkan yang tertinggi adalah surga firdaus.”
Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa ahli surga itu memiliki tingkatan-tingkatan, berdasarkan posisi mereka saat berada di surga.
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ahli surga itu saling melihat antar kamar dan atasnya, sebagaimana saling memandangnya bintang-bintang yang beredar dan yang tetap di ufuk timur atau barat karena di antara mereka saling memiliki kelebihan.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah di sana ada posisi yang khusus bagi para Nabi, yang orang lain tidak akan bisa sampai ke sana?” Rasulallah menjawab, “Tidak demikian, demi Dzat yang diriku berada di kekuasaan-Nya. Para Nabi akan berada satu posisi bersama orang-orang yang beriman kepada Allah dan yang membenarkan para Rasul itu.” (Shahih Bukhari)
Dala sebuah susunan Turmudzi dan Ibnu Majah, serta Shahih Ibnu Hibban, disebutkan sebuah hadits dari Abu Sa’id, yang ia terima dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya ahli surga yang berada pada tingkat tertinggi dapat melihat orang-orang yang berada pada tingkat di bawahnya, sebagaimana melihat bintang-bintang yang tertinggi di langit. Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk golongan yang menikmatinya.” (HR Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Imam Turmudzi mengatakan, “Mu’adz bin Jabal tidak mengetahui tentang pemberian tersebut.”
Penulis buku ini mengatakan, “Hadits ini ditakhrij oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah, sebagaimana hadits terdahulu dan itu merupakan hadits yang shahih dan muttashil.”
Diriwayatkan dari Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Zaid bin An’am, dari Utbah bin Ubaid Adh-Dhaby bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah saw. lalu ia bertanya: “Wahai Rasulallah, di surga ada berapa tingkatan?” Rasulullah saw. menjawab, “Seratus tingkat. Jarak antara satu tingkat dengan tingkat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi. Pada tingkat pertama, rumah, pintu, dipan dan kuncinya terbuat dari emas. Pada tingkat kedua, rumah, pintu, dipan, dan kuncinya terbuat dari perak. Pada tingkat ketiga, rumah, pintu, dipan dan kuncinya terbuat dari yakut, mutiara, dan zabarjad [batu mulia]. Dan ada 97 tingkat lagi yang tidak seorang pun mengatahuinya kecuali Allah.”
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di surga, terdapat seratus tingkat. Kalau saja seluruh alam dikumpulkan pada salah satu tingkat di surga tersebut, niscaya muat.” (HR Ibnu Majah dalam Sunan)
Imam Qurthubi dalam at-Tadzkirah mengomentari tentang keindahan tingkatan-tingkatan di surga dan tingginya posisi. Beliau berkata, “Ketahuliah bahwa ketinggian dan karakter kamar-kamar ini bergantung pada perbedaan perbuatan penghuninya. Oleh karena itu, sebagian menjadi lebih tinggi dari sebagian yang lain. Sedangkan, pengertian sabda Rasulullah saw. “Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, para Nabi akan berada satu posisi bersama-sama orang-orang yang beriman kepada Allah dan yang membenarkan para Rasul itu.” Hadits ini tidak menyebutk kata-kata amal atau yang lainnya, kecuali keimanan dan membenarkan para Rasul. Yang dimaksud sebenarnya adalah keimanan yang sempurna dan membenarkan para Rasul tanpa bertanya. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin orang akan memperoleh kamar-kamar dengan keimanan dan pembenaran, sebagaimana pada umumnya? Jika demikian, semua orang yang mengesakan Allah akan berada pada posisi dengan kamar-kamar papan atas dan kelas tinggi. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil. Allah berfirman: “Merkea itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi [dalam surga] atas kesabaran mereka…” (al-Furqaan: 75)
Kesabaran adalah upaya mengerahkan seluruh kemampuan jiwa dan tetap konsisten berdiri tegak di depan Allah dengan hati penuh pengabdian. Ini adalah karakteristik orang-orang yang dekat dengan Allah. Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya: “Dan bukanlah harta dan anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi [dalam surga].” (Saba’: 37)
Kamar tersebut tidak dapat diperoleh dengan banyaknya harta atau anak. Kamar itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan dan amal shalih. Allah juga menjelaskan bahwa ahli surga juga memperoleh imbalan dari kelemahan mereka. Dan, tempat mereka adalah kamar-kamar. Semua itu mengajarkan akan keharusan adanya keimanan yang konsisten, serta hatinya senantiasa digantungkan kepada Allah, bahkan dalam seluruh urusan.
Ia tidak mengerjakan amal perbuatan buruk yang dapat merusak amal baik yang telah diperbuatnya. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan keimanan yang sempurna, yang membuat pemiliknya akan tetap tenang dengan keimanan tersebut. Sementara itu, orang yang keimanannya bercampur, tentu amal perbuatannya tidak akan demikian. Oleh karena itu, sangat relevan jika harus ada tingkatan-tingkatan dalam posisi di surga.
Di dalam surah ar-Rahman disebutkan adanya empat surga, dua di antaranya ada di atas yang lain. Ayat ini termasuk salah satu yang menunjukkan adanya perbedaan derajat di surga, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (ar-Rahmaan: 46)
“Dan selain dari dua surga tiu ada dua surga lagi.” (ar-Rahmaan: 62)
Dalam shahih Bukhari terdapat sebuah hadits yang membahas tentang dua surga di bawah surga yang lain tersebut.
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua surga yang terbuat dari perak, seluruh wadah serta seluruh benda yang ada di dalamnya. Dan ada dua surga yang terbuat dari emas, seluruh wadah serta seluruh benda yang ada di dalamnya. Batas antara suatu kaum dengan kesempatan melihat Tuhannya hanya sebatas surban orang dewasa yang menutupi wajahnya saat berada di surga ‘adn.” (HR Bukhari dan Muslim)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar