Pengetahuan Akhirat; Surga Kenikmatan yang Kekal; Mahir Ahmad Ash-Shufiy
Akhir dari perjalanan akhirat adalah melintasi jembatan shirath yang dikhususkan bagi orang-orang beriman dan tidak bagi orang-orang kafir/orang-orang musyrik. Setelah semuanya melintasi jembatan shirath, orang-orang mukmin akan langsung menghadap ke arah surga. Tak ada yang tahu berapa lama mereka disana kecuali Allah swt. Di sana, orang-orang mukmin dikumpulkan sebelum masuk surga dan sebelum pintu-pintu surga dibukakan untuk mereka.
Selesailah prosesi kiamat yang rentang waktunya sekitar 50.000 tahun, sebagaimana telah selesai pula prosesi kengerian dan keterkejutan, pemeriksaan oleh Allah swt, penghitungan amal, penimbangan amal, dan melintasi jembatan shirath.
Tempat itu bukanlah surga, melainkan berada di dekat dengan surga. Di sana, ada rahmat Allah yang telah dijanjikan kepada para hamba-Nya. Untuk masuk ke dalam surga, diperlukan proses adaptasi hingga seorang hamba benar-benar siap, baik jiwa, raga maupun roh. Orang mukmin harus dipersiapkan untuk menerima keindahan yang karakteristiknya tidak mungkin bisa dijelaskan. Oleh karena itu, orang-orang mukmin dikumpulkan di halaman yang jika dibandingkan dengan bumi menjadi luar biasa sangat luas. Di sana sudah terdapat keindahan, seperti sungai-sungai surga dan aroma yang semerbak mewangi.
Abdullah Ibnu Mubarak menceritakan sebuah hadits dari Sulaiman bin Mughirah dari Hamid bin Hilal, “Telah diceritakan bahwa ketika seseorang masuk surga, wajahnya diubah menjadi wajah ahli surga, begitu juga pakaian dan perhiasannya. Kepada mereka sudah diperlihatkan para istri dan pelayannya sehingga mereka menjadi amat senang dan gembira. Andai saja mereka bisa mati karena kegembiraannya, pastilah mereka akan mati karenanya. Lalu, dikatakan kepada mereka, tahukah kalian akan kegembiraan kalian ini? Ia akan senantiasa menjadi milik kalian selamanya.” (HR Ibnul Mubarak dalam kitab Ziyadah az-Zuhd, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushanaf, dan Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah)
Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Suwaid bin Said, dari Ali bin Musahar, dari Abdurrahman bin Ishak, dari an-Nu’man bin Saad. Ia berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Ali ra. lalu beliau membacakan ayat yang artinya: “(ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, bagaikan kafilah yang terhormat, dan Kami akan menggiring orang yang durhaka ke neraka jahanam dalam keadaan dahaga.” (Maryam: 85-86) Ali ra. berkata: “Demi Allah, proses pengumpulan mereka tidak berjalan kaki. Sebagai tamu terhormat, mereka tidak berjalan kaki, tetapi dijemput dengan kendaraan yang keindahan dan kemewahannya tidak pernah dilihat oleh makhluk sebelumnya. Di atasnya terdapat pelana dari emas. Merekapun mengendarainya hingga tiba di pintu surga.” (HR Abdullah dalam kitab Zawaid Musnad Imam Ahmad)
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim menambahkan, “Dijemput dengan kendaraan yang di atasnya terdapat pelana terbuat dari emas, dan di dalamnya terdapat zabarjad (batu permata).”
Ibnu Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ghassan dari Malik bin Ismail an-Nahdi, dari Musallamah bin Jakfar al-Bajali, dari Aba Mu’adz al-Bishry bahwa suatu ketika Ali berada di dekat Rasulullah saw. beliau membacakan ayat: “(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, bagaikan kafilah yang terhormat.” (Maryam: 85) Ali berkata: “Wahai Rasulallah, menurut saya, maksud dari wafdan adalah kendaraan.” Rasulullah menjawab: “Demi Allah, ketika manusia keluar dari kubur mereka, maka dijemput dengan kendaran putih bersayap, tempat duduknya dari emas, tali sepatunya memancarkan cahaya berkilauan di setiap langkahnya hingga mereka tiba di bawah pohon yang dari pangkalnya memancarkan dua mata air. Mereka pun minum dari salah satunya, hingga perut mereka bersih dari dosa. Lalu mereka mandi di mata air yang satu lagi. Setelah itu mereka menjadi gembira dan rambut-rambut mereka tidak berguguran lagi untuk selama-lamanya. Mereka berada dalam kesenangan yang penuh kenikmatan. Mereka semua berhenti di pintu surge. Tiba-tiba mereka menemukan gagang pintu yang terbuat dari emas. Merekapun dibuatkan tabir sehingga tidak terdengar rintihan, wahai Ali. Lalu setiap bidadari mendengar bahwa suaminya akan dating. Ia pun meminta malaikat penjaga membukakan pintu untuk suaminya. Dan ketika ia melihat sang suami, iapun taat kepadanya. Laki-laki ahli surge itu berkata: “Angkat kepalamu!” bidadari itu berkata: “Aku ini nilai untukmu, aku pasrah atas perintahmu.” Ia pun mengikutinya dan mengikuti jejaknya. Para bidadari itupun tidak lagi terburu-buru. Mereka keluar dari tenda mutiara dan yakut dan mendekati para laki-laki ahli surge. Para bidadari itu berkata: “Engkau kekasihku, aku mencintaimu. Aku kekal dan tidak akan mati. Aku adalah kenikmatan yang tiada menyakitkan. Akulah kerelaan yang tiada benci. Akulah tinggal yang tiada pergi.” Merekapun memasuki rumah yang ukurannya dari pondasi hingga atapnya kira-kira 100.000 dzira’ (lengan orang dewasa), dibangun di atas batu besar yang dibuat dari mutiara merah, kuning, hijau hingga ke pinggirnya. Di sana tak ada jalan yang menyulitkan pemiliknya. Di dalam rumah terdapat 70 istri. Setiap istri mempunyai 70 perhiasan, sumsum betisnya dapat dilihat dari balik perhiasannya, dan dapat digauli selama satu malam penuh, seperti malam-malam kalian sekarang ini.
Sungai-sungai di bawah mereka mengalir, yaitu sungai-sungai yang air tidak berubah rasa dan baunya, bening dan tidak kotor. Juga sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, yang tidak keluar dari binatang. Selain itu juga ada sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, yang tidak dibuat oleh orang-orang dengan kaki-kaki mereka. Ada pula sungai-sungai dari madu yang disaring, yang tidak keluar dari perut lebah. Buah-buahan dihalalkan. Kalau mau, penduduk surge bias makan sambil berdiri, duduk atau berbaring.”
Kemudian RAsulullah membaca sebuah ayat yang artinya: “Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya. (al-Insaan: 14)”
Ketika ahli surga ingin makan, datanglah burung putih atau hijau mengepakkan kedua sayapnya. Maka, mereka makan buah-buahan dari pohon tersebut, warna apapun yang dikehendaki. Kemudian, merekapun terbang dan pergi. Lalu masuklah malaikat dan berkata: ‘Salaamun ‘alaikum (salam sejahtera untuk kalian semua).” (HR Ibnu Abi Hatim, sebagaimana terdapat dalam ad-Dur al-Mantsur)
Firman Allah yang artinya: “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan.” (az-Zukhruf: 72)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar