Seorang Raja Tekstil, tentunya berpenampilan superserius. Tetapi,
tidak begitu dengan H Muhammad Lukminto. Pria ramah dan suka bercanda
kelahiran Kertosono, Nganjuk, Jatim, 1 Januari 1946 tersebut mengawali
suksesnya dari sebuah tempat kecil di Pasar Klewer.
Dari tempat itulah, teman masa kecil Harmoko, mantan menteri pene rangan di era Soeharto ini mengawali sukses.
“Saya terjun ke bidang bisnis dan industri tekstil. Kisah saya jadi
industriawan dan pengusaha tekstil yang sukses saya mulai ketika menjadi
pedagang tekstil kecil-kecilan di Pasar Klewer, Surakarta. Waktu itu
saya wira-wiri menjual teks til eceran. Dulu semuanya saya kerjakan
sendiri. Mulai membeli kain dan benang di Surabaya, lalu menagih hingga
mewarnai kain itu sampai tangan dan jari saya penuh bahan pewarna,” ujar
Lukminto sambil memperlihatkan jemarinya kepada wartawan Koran JITU di
rumahnya yang bak istana dikawasan Baron, Solo.
Lalu, meningkat sampai mempunyai sebuah kios tetap,” ujar Lukminto.
Dia sepertinya memang cocok berbisnis tekstil. Sehingga akhirnya bisa
membuka pabrik kecil di sekitar Baturono, Jalan Kiai Maja, Surakarta.
Pabriknya saat itu kecil. Tetapi menjadi embrio lahirnya PT Sri Rejeki
Isman, yang kini berdiri megah di Sukoharjo. Karyawan yang bekerja di
sini kurang lebih 20.000 orang.
Pada tanggal 3 Maret 1992, pabrik tersebut turut diresmikan oleh
Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di dae rah Surakarta,
Jawa Tengah. Bukan main bangganya Lukminto ketika itu.
Sejak saat itu, PT Sritex berkembang dengan sangat pesat. Lukminto
yang sebelumnya peda gang kain eceran di Pasar Klewer, kini memimpin
sebuah perusahaan besar.
Namun, apakah dia mendapatkan semua itu tiba- tiba ? Tidak. Butuh
perjuangan berat dan berliku sebelum akhirnya, pria yang masuk Islam
sejak 11 Maret 1994 ini, punya hak menyandang gelar Raja Tekstil.
“Saya masih ingat, pulang sekolah, saya dan kakak langsung berdagang
makanan-makanan kecil, seperti kacang goreng, permen, rokok, dan
lainnya. Kedua orang tua kami selalu menekankan agar kelak ha rus
menjadi orang berkecukupan.
Sebab jadi orang miskin itu tidak enak, selalu jadi cemoohan dan
hinaan orang serta susah membantu orang lain sekaligus bersedekah.
Begitu pesan mereka. Kami pun selalu dididik untuk tidak boleh puas
terhadap perolehan yang kami dapat. Kalau perolehan yang kami dapat hari
ini sama dengan yang kemarin, itu berarti rugi,” ujar Lukminto.
Karena dicambuk oleh hal-hal yang seperti itu, Lukminto tumbuh
menjadi anak yang mandiri dan ulet. Tidak ada cita-cita muluk
sebagaimana lazimnya anak seusianya ketika itu. Misalnya menjadi pegawai
negeri, ABRI, polisi, pilot, dokter dan lain-lain. Impiannya hanya
satu. Bercita-cita jadi menjadi seorang pebisnis sukses.
“Sebab, saya tahu diri. Dulu, sebagai WNI keturunan, nasib kami
nyaris ditentukan oleh usaha dan keuletan kami sendiri. Setelah beranjak
re maja, saya semakin sadar bahwa posisi kami kurang beruntung
dibandingkan saudara-saudara kami lainnya.
Kami tak bisa jadi ABRI, kami tak boleh jadi pegawai negeri. Padahal
kami sudah lahir di negeri ini, dan mencintai negeri ini sama besarnya
seperti saudara-saudara kami dari sukusuku lainnya di Nusantara ini,”
kata pria yang sejak lama bersahabat dengan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.
JADI MUALAF SAAT PERINGATAN SUPERSEMAR
Tentang keislamannya, Lukminto punya kisah sendiri. Semua berawal dari kekosongan hatinya setelah menyandang gelar Raja Tekstil.
Sejak itu, Lukminto jadi pendiam. Ia jadi lebih suka merenung dan
berpikir tentang dirinya sendiri dan mulai suka mengikuti siaran mimbar
agama Islam yang ditayangkan TVRI . Begitu tenggelamnya Lukminto dalam
perenungan, hingga suatu malam, tepatnya tanggal 10 Januari 1994
bertepatan malam 27 Rajab (Isra Mi ‘raj), saat bermalam di vila nya di
Tawangmangu, Karanganyar.
Ia bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karibnya ,” Saya
disuruh melaksanakan shalat. Saya nggak bisa shalat, jawab saya. Lalu,
teman saya memberi contoh bagaimana caranya shalat. Setelah paham, saya
pun disuruh mengulangi gerakan shalat yang ia peragakan.
Shalatlah kamu, kata teman saya itu. Lalu, saya pun shalat. Tapi,
baru separo jalan, saya terjaga. Ternyata, itu hanya mimpi, “ kata
Lukminto. Sejak bermimpi itu, Ia jadi gelisah. Isteri nya pun sempat
bingung melihat dirinya, namun, Ia tak menceritakan mimpi itu kepadanya.
Cukup lama Lukminto merahasiakan kejadian mimpinya itu . Tapi
lama-lama Ia tak tahan juga untuk tidak bercerita. Kebetulan, lanjut
Lukminto, Ia mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi.
Ia seorang muslim yang taat. Saat Lukminto minta dipijat olehnya, Ia
pun menceritakan mimpi itu kepadanya. “ Mende ngar cerita mimpi itu Pak
Edi spontan bergumam, Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan
masuk Islam, katanya mantap. Benarkah? tanya saya. Insya Allah, jawab
Pak Edi ,” kata menceritakan kisah masuk islamnya kepada Koran JITU
Sejak itu, Lukminto pun mulai dibimbing untuk melaksanakan shalat, dan
mengikuti mengikuti saran Pak Edi untuk berkhitan.
Namun, kata Lukminto semua itu dilakukan secara sembunyisembunyi.
Bahkan Ia dikhitan di Jakarta. Ketika masuk bulan suci Ramadan, Ia pun
ikut melaksanakan ibadah puasa dan mengeluarkan zakat.
Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hatinya, Pak Edi
menyarankan agar keislamannya itu harus segera diproklamirkan.
Alasannya, agar semua orang tahu bahwa Lukminto sudah muslim. “ “ Saran
tukang pijat saya itu pun saya terima dan pada tanggal 11 Maret 1994
bertepatan dengan peringatan Supersemar, saya mengucapkan ikrar dua
kalimat syahadat di hadapan umat Islam dan karyawan PT Sritex, dibimbing
oleh pemimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir,
S.H., “ pria yang suka blak-blakan ini kalau bercerita Hingga sekarang,
Lukminto benar-benar sukses mewarnai dunia dengan kain, garmen dan
benang yang diekspornya.
Meski sudah mewariskan usahanya ke generasi berikutnya, Lukminto
masih sering terjun langsung ke Sritex. Bahkan, masih ada beberapa
meeting yang juga dipimpinnya sendiri.
“Saya tidak merasa bekerja keras. Saya kerjakan apa yang bisa saya
kerjakan,” ujar Lukminto ketika ngobrol bareng Koran JITU ditemani para
pejabat teras PT Sritex di ruang meeting perusahaannya yang sederhana di
Jalan KH Samanhudi, Jetis, Sukoharjo.
BIOGRAFI
Lahir: Kertosono, Nganjuk, Jatim
Tanggal: 1 Januari 1946
Istri: Ny Susyana
Anak:
1. Vonny Imelda Lukminto
2. Iwan Setiawan
3. Lenny Imelda Lukminto
4. Iwan Kurnawan Lukminto
5. Margaret Imelda Lukminto
Tanggal: 1 Januari 1946
Istri: Ny Susyana
Anak:
1. Vonny Imelda Lukminto
2. Iwan Setiawan
3. Lenny Imelda Lukminto
4. Iwan Kurnawan Lukminto
5. Margaret Imelda Lukminto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar