Penyebab krisis itu ternyata rombongan karavan Raja Mansa Musa dari Mali di Afrika Barat yang hendak menunaikan ibadah haji. Apa hubungannya ?
Begini kejadiannya. Pada 1324, Raja Mansa berangkat dari Mali menuju tanah suci Mekah. Saat itu Mali dikenal sebagai kerajaan yang teramat sangat kaya karena menjadi penghasil emas terbesar dunia. Tak heran jika rombongan calon haji itu menjadi arak-arakan besar dan mewah. Rombongan itu jumlahnya tak kurang dari 60 ribu lelaki, 12 ribu diantaranya para pelayan.
Setiap pelayan sekurangnya membawa dua kilogram emas batangan, baju sutra bertahta emas, ribuan kuda, dan berkoli-koli perbekalan. Di dalam rombongan juga terdapat 100 ekor unta yang masing-masing memanggul sekurangnya 100 kilogram emas. Sehingga rombongan haji itu setidaknya membawa bekal 34 ton emas batangan.
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu tahun itu tentu saja membutuhkan perawatan dan belanja yang cukup besar. Sang Raja sendiri dikenal sangat dermawan. Di setiap tempat yang dilewati, mereka tak sungkan-sungkan membayar menggunakan emas dengan nilai yang lebih besar dari harga barang. Mungkin sekalian sedekah dan beramal.
Saat rombongan sampai di Kairo, Mesir, mereka berkemah selama tiga hari di dekat kompleks piramida. Saat itu Raja Mali memberikan hadiah 50 ribu dinar emas kepada Sultan Mesir, Mamluk Al-Nasir Muhammad. Setiap wilayah yang dilewati rombongan menikmati hujan emas yang berlimpah. Mereka menerima rombongan dengan sajian terhebat, pelayanan nomer wahid, dan jaminan keamanan yang terbaik.
Kisah perjalanan haji Raja Mansa Musa ini bukanlah hikayat semata. Hampir semua sastrawan di sepanjang wilayah yang dilewati rombongan, menulis dengan akurasi yang nyaris serupa.
David Tschanz, dalam esainya Lion of Mali: The Hajj of Mansa Musa edisi Mei 2012, menulis, Musa tak hanya memberikan emasnya ke kota-kota yang ia singgahi, termasuk Kairo dan Madinah, tetapi juga menukarnya dengan souvenir. Ia dilaporkan juga membangun sebuah masjid setiap hari Jumat.
Meski pundi-pundi emas Musa terus dibagikan saat berhaji, sumur rejekinya tak pernah kering. Maklum raja muslim itu menguasai tambang emas dan menguasai rute trans Sahara.
Namun apa yang terjadi kemudian? Setelah berlalunya rombongan, nilai emas langsung anjlok. Karena emas yang beredar berlimpah yang terjadi bukan orang berburu emas, tetapi orang berebut menjual emas. Berlimpahnya uang hasil penjualan emas, membuat harga-harga barang melonjak naik. Kondisi ini tidak hanya terjadi satu atau dua tahun, namun berlarut-larut hingga 20 tahun.
Melihat situasi itu, Raja Mali merasa prihatin. Emas produksi Mali yang selama ini bisa dijual ke negara-negara Timur Tengah juga merosot permintaannya. Guna menggendalikan situasi, Raja Mansa Musa mengambil keputusan membeli atau meminjam (layaknya pegadaian) sebanyak mungkin emas yang pernah dia bagi-bagikan. Bahkan sang Raja siap memberi imbalan dengan harga tinggi.
Membaca kisah tersebut terbayang seberapa kayanya Raja Mansa Musa. Dia bukan hanya kaya pada jamannya, namun diakui sebagai orang paling kaya yang pernah ada di muka bumi, hingga hari ini.
Majalah Time mencatat, jika disesuaikan dengan inflasi saat ini Mansa Musa mempunyai kekayaan senilai US$ 400 miliar (Rp 6.000 trilliun). Angka itu mengungguli harta keluarga Rothschild (US$ 350 miliar), John D Rockefeller (US$ 340 miliar), ataupun Henry Ford (US$ 199 miliar).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar