Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berkata: ‘Kecuali Puasa,.. simak selengkapnya.
Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum
Puasa
merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana
tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى
سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ،
فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ
أَجْلِي
“Setiap
amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan
berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala
berkata: ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang
menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa
nafsunya dan makannya karena Aku’.” (Shahih, HR. Muslim)
Hadits
di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Allah
ta’ala akan melipatgandakan pahalanya bukan sekedar 10 atau 700 kali
lipat namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya Ta’ala. Padahal
kita tahu bahwa Allah ta’ala Maha Pemurah, maka Dia tentu akan membalas
pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.
Hikmah
dari semua ini adalah sebagaimana tersebut dalam hadits, bahwa orang
yang berpuasa telah meninggalkan keinginan hawa nafsu dan makannya
karena Allah Ta’ala. Tidak nampak dalam dzahirnya dia sedang melakukan
suatu amalan ibadah, padahal sesungguhnya dia sedang menjalankan ibadah
yang sangat dicintai Allah ta’ala dengan menahan lapar dan dahaga.
Sementara di sekitarnya ada makanan dan minuman.
Di
samping itu dia juga menjaga hawa nafsunya dari hal-hal yang bisa
membatalkan puasa. Semua itu dilakukan karena mengharapkan keridhaan
Allah Ta’ala dengan meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala
gerak-geriknya.
Di
antara hikmahnya juga yaitu karena orang yang berpuasa sedang
mengumpulkan seluruh jenis kesabaran di dalam amalannya. Yaitu sabar
dalam taat kepada Allah Ta’ala, dalam menjauhi larangan, dan di dalam
menghadapi ketentuan taqdir-Nya Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala mereka berlipat ganda tanpa perhitungan.” (Az-Zumar: 10)
Perlu
menjadi catatan penting bahwa puasa bukanlah sekedar menahan diri dari
makan, minum dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Orang yang
berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala
yang diharamkan oleh Allah Ta’ala namun bukan berarti ketika tidak
sedang berpuasa boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut.
Maksudnya
adalah bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila
dilakukan pada bulan yang mulia ini, dan ketika menjalankan ibadah yang
sangat dicintai Allah Ta’ala. Bisa jadi seseorang yang berpuasa itu
tidak mendapatkan faidah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan
haus dan lapar. Na’udzubillahi min dzalik.
Untuk
itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa
agar mendapatkan balasan dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah ta’ala
janjikan. Diantaranya:
1.
Setiap muslim harus membangun ibadah puasanya di atas iman kepada Allah
Ta’ala dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji
atau sekedar ikut-ikutan keluarganya atau masyarakatnya yang sedang
berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang
siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari
Allah Ta’ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)
2.
Menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah k, seperti
menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain. Begitu pula menjaga
matanya dari melihat orang lain yang bukan mahramnya baik secara
langsung atau tidak langsung seperti melalui gambar-gambar atau
film-film dan sebagainya. Juga menjaga telinga, tangan, kaki dan anggota
badan lainnya dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah
Ta’ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih HR. Al-Bukhari no. 1804)
Maka
semestinya orang yang berpuasa tidak mendatangi pasar, supermarket,
mal, atau tempat-tempat keramaian lainnya kecuali ada kebutuhan yang
mendesak. Karena biasanya tempat-tempat tersebut bisa menyeretnya untuk
mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah Ta’ala.
Begitu pula menjauhi televisi karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa
efek negatifnya sangat besar baik bagi orang yang berpuasa maupun yang
tidak berpuasa.
3. Bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu:
الصِّيَامُ
جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ
يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ
فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa
adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa
janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat
suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.” (Shahih, HR. Muslim)
Dari
hadits tersebut bisa diambil pelajaran tentang wajibnya menjaga lisan.
Apabila seseorang bisa menahan diri dari membalas kejelekan maka
tentunya dia akan terjauh dari memulai menghina dan melakukan kejelekan
yang lainnya.
Sesungguhnya
puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak
mulia serta melatih dirinya menjadi sosok yang terbiasa menjalankan
ketaatan kepada Allah k. Namun mendapatkan hasil yang demikian tidak
akan didapat kecuali dengan menjaga puasanya dari beberapa hal yang
tersebut di atas.
Puasa
itu ibarat sebuah baju. Bila orang yang memakai baju itu menjaganya
dari kotoran atau sesuatu yang merusaknya, tentu baju tersebut akan
menutupi auratnya, menjaganya dari terik matahari dan udara yang dingin
serta memperindah penampilannya. Demikian pula puasa, orang yang
mengamalkannya tidak akan mendapatkan buah serta faidahnya kecuali
dengan menjaga diri dari hal-hal yang bisa mengurangi atau bahkan
menghilangkan pahalanya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى
سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ
فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ
أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ
عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ
رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan
dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus
kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan
puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan
membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan
karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan
yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa
dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di
sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan
adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa
adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa
Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan
dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang
semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah
dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan
pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah
hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.
Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati
beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”.
Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang
bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan
mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang
bersabar adalah surga.”[1]
Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan
kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar
dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk
sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja
di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang
diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal
yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan
lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak
terhingga sebagaimana sabar.
Amalan Puasa Khusus untuk Allah
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.
Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya.
Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah
menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.
Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?
[Alasan pertama] Karena
di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai
syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah
ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan
istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan
lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah
shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan
minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat,
jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan
tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda
shalat ketika dalam kondisi seperti itu.
Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam
syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah
melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri
dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu
semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia
lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang
yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab,
“Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang
melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam
pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan
melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati
Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena
takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf
mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di
hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di
hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa
seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya
dibanding amalan-amalan lainnya.
[Alasan kedua] Puasa
adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang
lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang
hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat
bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan
selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin
dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan
amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.
Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga
Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla
berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan
kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala
akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam
kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali
satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya
Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”
Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak
boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai
tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di
sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat
menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena
banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala
kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat
nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang
lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari
amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan
kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang
hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan
menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki
simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.
Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa
Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan
mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan
kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika
berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia
rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang
menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang
dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika
hal tersebut diperbolehkan lagi.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya
yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di
sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya
kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling
baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7)
Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah
Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi
di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini
adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan
dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula
darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah
warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.
Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:
[Pertama] Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba
dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan
puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar
berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan
manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan
amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang
dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang
dia lakukan.
[Kedua] Barangsiapa
yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di
dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya
tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas
seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah
sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan
bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena melakukan ketaatan
dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan
memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk,
walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2]
Ganjaran Puasa Lainnya
# Puasa adalah perisai dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ
”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3]
# Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ
الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ
فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ
بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at
kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata,
“Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat,
karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan
amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya
dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi
syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya
diperkenankan”.“[4]
# Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ
الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ
غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ
مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ
مِنْهُ أَحَدٌ
”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan.
Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui
pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu
tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang
yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada
seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika
mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang
pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5]
Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah.
Hanya Allah yang beri taufik.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar