Rasa malu itu warisan para nabi. Artinya, telah diajarkan oleh para Nabi sebelum kita.
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshary Al-Badry radhiallahu ’anhu, dia berkata:
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ
النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ
فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi
terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari, no. 3483)
Penilaian Hadits Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari riwayat
Manshur bin Al-Mu’tamar dari Rib’iy bin Hirasy dari Abu Mas’ud dari
Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ada
perbedaan dalam sanad hadits ini. Namun, sebagian besar ahli hadits
mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Mas’ud. Yang mengatakan
demikian adalah Al-Bukhari, Abu Zur’ah, Ar-Raziy, Ad-Daruquthniy, dan
lain-lain. Yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah bahwa telah
diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Mas’ud pada riwayat Masruq.
Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. (Lihat Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, hlm. 255, Ibnu Rajab Al-Hambali, Darul Hadits Al-Qahirah)
Sifat Malu adalah Warisan Para Nabi Terdahulu
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى
Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu.
“Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari
ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari
para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa
kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah
di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada
umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, hlm. 255)
Yang dimaksudkan dengan (النُّبُوَّةِ الأُوْلَى) adalah kenabian
terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan
lain-lain (Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112).
Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al Qur’an, As Sunnah (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. (Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207)
Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini
menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yag besar sehingga
sangat penting sekali untuk diperhatikan.
Syariat Sebelum Islam
Ada pelajaran penting yang patut dipahami. Syariat sebelum Islam atau syariat yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga :
- Ajaran yang dibenarkan oleh syari’at Islam, maka ajaran ini shohih dan diterima
- Ajaran yang dibatalkan oleh syari’at Islam, maka ajaran ini bathil dan tertolak
- Ajaran yang tidak diketahui dibenarkan atau disalahkan oleh syari’at Islam, maka sikap kita adalah tawaqquf (berdiam diri, tidak berkomentar apa-apa). Namun, apabila perkataan semacam ini ingin disampaikan kepada manusia dalam rangka sebagai nasehat dan semacamnya maka hal ini tidaklah mengapa, dengan syarat tidak dianggap bahwa perkataan itu multak benar. (Lihat Syarh Arba’in Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 207-208)
Keutamaan Rasa Malu
Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)
Rasa malu ini juga dipuji oleh Allah.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
”Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Menutupi, Allah cinta
kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian
itu mandi maka hendaklah menutupi diri.” (HR. Abu Daud no. 4014, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Malu Terkait Hak Allah dan Hak Sesama
Pertama, malu yang berkaitan dengan hak Allah. Seseorang harus
memiliki rasa malu ini, dia harus mengetahui bahwa Allah mengetahui dan
melihat setiap perbuatan yang dia lakukan, baik larangan yang
diterjangnya maupun perintah yang dilakukannya.
Kedua, malu yang berkaitan dengan hak manusia. Seseorang juga harus
memiliki rasa malu ini, agar ketika berinteraksi dengan sesama, dia
tidak berperilaku yang tidak pantas (menyelisihi al-muru’ah) dan berakhlak jelek. Syaikh Ibnu Utsaimin memberi contoh.
Dalam majelis ilmu, jika seseorang berada di shaf pertama, lalu dia
menjulurkan kakinya, maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena
dia tidak menjaga al-muru’ah (kewibawaan). Namun, jika dia duduk di antara teman-temannya, kemudian dia menjulurkan kaki, maka ini tidaklah meniadakan al-muru’ah. Namun, lebih baik lagi jika dia meminta izin pada temannya,”Bolehkah saya menjulurkan kaki?”. (Syarh Al-Arba’in, 210)
Malu Tabi’at dan Malu yang Butuh Dilatih
- Malu yang merupakan tabi’at/ watak seseorang. Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah Ta’ala rasa malu. Ketika dia masih kecil saja sudah memiliki sifat demikian. Dia malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.
- Malu hasil diusahakan. Malu yang kedua ini adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian dia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka. Rasa malu yang pertama di atas lebih utama dari yang kedua ini. (Syarh Al-Arba’in, 210)
Sifat Malu yang Terpuji
Perlu diketahui bahwa malu adalah suatu akhlak yang terpuji kecuali
jika rasa malu tersebut itu muncul karena enggan melakukan kebaikan atau
dapat terjatuh dalam keharaman. Maka jika seseorang enggan untuk
melakukan kebaikan seperti enggan untuk nahi mungkar (melarang
kemungkaran) padahal ketika itu wajib, maka ini adalah sifat malu yang
tercela.
Jadi ingat! Sifat malu itu terpuji jika seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak menjadikannya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram.
(Syarh Al-Arba’in, hlm. 210)
Jika Tidak Malu, Lakukanlah Sesukamu
Para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna :
Pertama:
Kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah.
Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka
lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.
Kedua:
Kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:
a) Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah:
Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini
maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya),
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40).
Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita
termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika
kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan
mendapatkan akibatnya.
b) Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah:
Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan
penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa
yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan
dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu.
Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi
jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam
kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih Al-Ahkam,
4: 794, Darul Atsar; Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113;
Syarh Arba’in Al-Utsaimin, hlm. 207; Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 255)
Sifat Malu Orang-Orang Shalih
Contoh akhlak yang mulia ini dapat dilihat pada Nabi Musa ’alaihis salam.
Nabi Musa adalah pemalu dan selalu tertutup auratnya. Tidak pernah
terlihat kulitnya karena malu. Kemudian Bani Israil mencelanya. Mereka
sampai mengatakan bahwa Musa selalu tertutupi badannya karena dia
terkena kusta atau penyakit kulit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh generasi teladan yang pertama, yang telah mewarisi akhlaq
mulia dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, mereka itu
sangatlah pemalu. Di antara mereka yang dijadikan contoh yang
mengagumkan dalam hal ini, hingga para malaikat pun malu kepadanya
adalah Utsman bin ’Affan radhiyallahu ’anhu. Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam bersabda,
اَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ
“Yang paling jujur dalam rasa malu adalah Utsman.” (Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1224)
Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga mengatakan tentang Utsman,
أَلاَ أَسْتَحِى مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِى مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ
”Apakah aku tidak malu pada seseorang yang para Malaikat saja malu kepadanya.” (HR. Muslim, no.6362)
[Lihat pembahasan yang sangat bagus dari Syaikh Salim bin ’Ied Al Hilali pada edisi terjemahan ’Malu menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih’]
Ya Allah bekalilah kami dengan sifat yang mulia ini. Semoga tulisan
ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu
yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima
di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa
shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
—
Selesai disusun di Yogyakarta, pada syahrullah (13 Muharram 1429 H), bertepatan dengan 21 Januari 2008
Kami ucapkan jazahallah khairan kepada guru kami Ustadz Aris
Munandar, SS yang telah mengoreksi ulang tulisan ini. Semoga Allah
memberkahi umur dan ilmu beliau.
—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar