Mempunyai anugerah yang diberi Allah SWT bukanlah suatu hal yang
semestinya disesali. Aku dilahirkan dari orang tua yang dikenal berparas
cantik dan tampan saat mereka muda dulu. Dan kecantikan fisik itu turun
kepadaku, anak pertamanya. Ibuku memberiku 5 adik setelahnya yang tidak
kalah cantik dan tampan. Aku sebagai sulung, namaku Yasmin.
Cantik
itu tidak membawa selalu dalam kebahagiaan, dan tidak selalu berakhir
bahagia. Menerima banyak pujian dari banyak orang, orang yang selalu
diperhatikan pertama, dan orang yang paling terkenal karena fisiknya.
Apa efeknya bagiku? Dampaknya tak lain adalah lebih banyak godaan lelaki
dan teman wanita yang palsu.
Aku tidak bisa mengerti bagaimana
teman yang benar-benar tulus. Setiap aku berada di tempat yang baru, aku
digoda dengan banyak lelaki di sekitarku, dan teman-temanku mayoritas
laki-laki. Teman perempuan memang banyak yang kelihatannya baik, tapi
hanya terlihat baik, terkadang mereka berubah, pernah sesekali mereka
mendorongku, melabrakku, mencemooh dengan kata-kata yang mereka yakini.
Entah apa salahku. Aku coba untuk menahan dan tidak membalas. Aku tidak
melakukan apapun.
Aku bertanya pada ibu ayahku mengapa teman-teman seperti itu saat
ini, tidak hanya pada saat ini, dari dulu saat aku SD, SMP, SMA, selalu
saja ada masalah dengan teman. Mereka bilang, tidak peduli mereka suka
atau tidak suka denganmu, tidak usah dibalas, tetapi yang terpenting,
kamu terus berbuat baik kepada mereka, dan selalu mengharap rasa sayang
kepada Allah dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, karena mereka
tidak memberimu apapun, tapi Allah memberimu semua.
Semenjak itu cara pandangku kuubah. Terserah mereka mau menjulukiku apapun, yang terpenting aku berbuat baik niat karena Allah. Mencari ridho Allah. Tidak hanya melakukan kewajiban-Nya tapi juga sunnah. Sering melakukan shalat tahajud, dhuha, dan banyak bersedekah. Entah mengapa jiwaku mulai tenang, damai. Aku merasa selalu bersama-Nya. Selalu disayang-Nya, dan aku tidak akan mengkhianati-Nya. Allah yang satu, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Menyayangi, Maha mengatur, dan dengan nama-nama-Nya yang lain yang tidak kalah baiknya, Dia lah Dzat yang Maha Sempurna, itu yang aku yakini.
Semenjak itu cara pandangku kuubah. Terserah mereka mau menjulukiku apapun, yang terpenting aku berbuat baik niat karena Allah. Mencari ridho Allah. Tidak hanya melakukan kewajiban-Nya tapi juga sunnah. Sering melakukan shalat tahajud, dhuha, dan banyak bersedekah. Entah mengapa jiwaku mulai tenang, damai. Aku merasa selalu bersama-Nya. Selalu disayang-Nya, dan aku tidak akan mengkhianati-Nya. Allah yang satu, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Menyayangi, Maha mengatur, dan dengan nama-nama-Nya yang lain yang tidak kalah baiknya, Dia lah Dzat yang Maha Sempurna, itu yang aku yakini.
Seiring berjalannya waktu, teman-teman yang dulunya paling membenciku
sekarang mereka menjadi sahabat-sahabat baikku. Mereka mengatakan,
"Kamu ternyata baik, tidak seburuk yang aku kira." Mereka menceritakan
saat-saat mereka membenciku. Menjengkelkan memang dengar cerita mereka
yang dulunya membenciku, tapi aku bersyukur, karena Allah lah yang
membolak-balikkan hati seseorang termasuk mereka. Bersyukur puas entah
karena apa, seperti memenangkan medali emas di perlombaan.
Selain ada teman-teman yang baik dan tulus denganku, aku juga diberi akademik yang terbilang baik. Aku selalu juara di kelas. Keluargaku juga semakin dekat denganku. Dan aku selalu dapat sesuatu jika aku ingin. Ini semua berkat kedekatanku dengan-Nya. Aku menjadi primadona di sekolahku. Dan aku akan menjaga ini, kebiasaan ini, aku akan terus tingkatkan keimananku, dan semoga dapat istiqomah.
Selain ada teman-teman yang baik dan tulus denganku, aku juga diberi akademik yang terbilang baik. Aku selalu juara di kelas. Keluargaku juga semakin dekat denganku. Dan aku selalu dapat sesuatu jika aku ingin. Ini semua berkat kedekatanku dengan-Nya. Aku menjadi primadona di sekolahku. Dan aku akan menjaga ini, kebiasaan ini, aku akan terus tingkatkan keimananku, dan semoga dapat istiqomah.
Itu yang aku jalani sampai aku kuliah, dan yang aku yakini sampai
sekarang. Hanya Allah yang bisa menolongmu, maka mendekatlah pada-Nya,
selalu. Ujianku tidak terhenti saat itu. Dengan banyaknya godaan lelaki
yang harus aku tahan. Allah memberiku fitrah-Nya, Allah memberiku
perasaan cinta dengan lelaki, yang sampai sekarang fitrah-Nya belum
habis karena waktu. Aku mencintainya. Dan dia mencintaiku.
Aku mengenalnya. Dia tidak sepemikiran denganku. Aku selalu ingin berusaha berada di dekat-Nya, Allah SWT. Tapi dia tidak. Karena rasa cintaku, karena syahwatnya, dan aku mulai menjauh dari Allah. Aku tidak bisa menyalahkan anugerah-Nya berupa kecantikan fisik, aku tidak bisa menyalahkan fitrah-Nya berupa cinta, bahkan aku tidak bisa menyalahkan Allah yang menguji keimananku saat ini. Imanku runtuh karena ini. Keperawananku hilang setelah berpacaran.
Allah, aku merasa jauh dari-Nya. Allah aku merindukan-Mu. Mana jiwaku yang damai, hatiku yang tenang seperti dulu, Allah, aku bersalah. Aku berdosa. Aku bersalah. Ibu, Ayah, maaf belum bisa menjadi anak pertama yang bisa dibangga-banggakan di mata adik-adik. Aku sudah kalah dengan ujian-Nya. Allah tak membutuhkanku, tapi aku yang membutuhkan-Nya. Tapi aku mengkhianati-Nya.
Aku mengenalnya. Dia tidak sepemikiran denganku. Aku selalu ingin berusaha berada di dekat-Nya, Allah SWT. Tapi dia tidak. Karena rasa cintaku, karena syahwatnya, dan aku mulai menjauh dari Allah. Aku tidak bisa menyalahkan anugerah-Nya berupa kecantikan fisik, aku tidak bisa menyalahkan fitrah-Nya berupa cinta, bahkan aku tidak bisa menyalahkan Allah yang menguji keimananku saat ini. Imanku runtuh karena ini. Keperawananku hilang setelah berpacaran.
Allah, aku merasa jauh dari-Nya. Allah aku merindukan-Mu. Mana jiwaku yang damai, hatiku yang tenang seperti dulu, Allah, aku bersalah. Aku berdosa. Aku bersalah. Ibu, Ayah, maaf belum bisa menjadi anak pertama yang bisa dibangga-banggakan di mata adik-adik. Aku sudah kalah dengan ujian-Nya. Allah tak membutuhkanku, tapi aku yang membutuhkan-Nya. Tapi aku mengkhianati-Nya.
Seks itu jika pernah dirasakan sekali, tidak akan dapat ditahan untuk
selanjutnya. Selanjutnya-selanjutnya akan terus begitu. Susah untuk
berhenti. Tapi aku tahu, aku berdosa, ibadah sunnah tak lagi kukerjakan
karena maksiat selalu aku lakukan. Aku ingin berhenti. Te tapi aku tidak
mau menyakiti, dan aku tidak mau disakiti. Tapi dia? Dia dipenuhi
syahwat, dan dia lupa akan Allah SWT.
Pada suatu hari, aku menangis sesenggukan tanpa dia ketahui, karena memohon pertolongan-Nya, memohon dekapan-Nya. Aku memohon jawaban-Nya. Dan pada esok hari, lelaki itu berkata padaku, "Yasmin, aku cinta sama kamu, kamu shalat taubatlah, aku juga. Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Aku akan berfokus untuk menikahimu."
Aku bersyukur. Allah membuka hatinya begitu cepat. Maha Suci Allah , Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan dia benar-benar menepati janji. Aku memulai ibadahku dengan tenang dan tanpa gelisah. Aku meninggalkan kerudung parisku yang pendek dan tembus pandang, meninggalkan celana jeans, meninggalkan baju berlengan pendek tiga perempat. Dan mengulurkan jilbabku ke seluruh tubuh. Aku sekarang berbusana syar’i di semester duaku. Berhijrah meninggalkan rumah dan pindah mencari ilmu agama lebih dalam di pondok pesantren dekat dengan kampus dan mengikuti program hafidz Quran. Semoga bisa istiqomah. Amin amin ya Rabb.
Pada suatu hari, aku menangis sesenggukan tanpa dia ketahui, karena memohon pertolongan-Nya, memohon dekapan-Nya. Aku memohon jawaban-Nya. Dan pada esok hari, lelaki itu berkata padaku, "Yasmin, aku cinta sama kamu, kamu shalat taubatlah, aku juga. Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Aku akan berfokus untuk menikahimu."
Aku bersyukur. Allah membuka hatinya begitu cepat. Maha Suci Allah , Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan dia benar-benar menepati janji. Aku memulai ibadahku dengan tenang dan tanpa gelisah. Aku meninggalkan kerudung parisku yang pendek dan tembus pandang, meninggalkan celana jeans, meninggalkan baju berlengan pendek tiga perempat. Dan mengulurkan jilbabku ke seluruh tubuh. Aku sekarang berbusana syar’i di semester duaku. Berhijrah meninggalkan rumah dan pindah mencari ilmu agama lebih dalam di pondok pesantren dekat dengan kampus dan mengikuti program hafidz Quran. Semoga bisa istiqomah. Amin amin ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar