Hal ini merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum
memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang
terkandung di dalamnya, karena masalah ini mengandung hakekat yang
sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.
Secara singkat, hakekat tersebut ialah bahwa Islam hanyalah merupakan
kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abul-anbiya’ [bapak para
nabi], Ibrahim as. Hakekat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab
Allah di banyak tempat, antara lain:
“Dan berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-sekali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama [millah] orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dulu…”(al-Hajj: 78)
“Katakanlah: ‘Benar [apa yang difirmankan] Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus [hanif], dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imraan: 95)
“Dan berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-sekali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama [millah] orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dulu…”(al-Hajj: 78)
“Katakanlah: ‘Benar [apa yang difirmankan] Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus [hanif], dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imraan: 95)
Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail as. Karena itu, mereka mewarisi
millah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya,
mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya
Baitul Haram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.
Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.
Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang bani Khuza’ah.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.
Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.
Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang bani Khuza’ah.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul harits
at-Tamimi: Shalih as-Saman menceritakan kepadanya bahwa ia pernah
mendengar Abu Hurairah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw.
bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza’i: “Wahai Aktsam, aku pernah
melihat Amr bin Luhayyi bin Qam’ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya di
dalam neraka. aku tidak pernah melihat seorang pun mirip [wajahnya]
dengannya kecuali kamu.” Aktsam lalu berkata: “Apakah kemiripan rupa
tersebut akan membahayakan aku, wahai Rasulallah?” Rasulullah menjawab:
“Tidak, sebab kamu Mukmin, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya dia adalah
orang yang pertama mengubah agama Ismail as. selanjutnya dia membuat
patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada
thaghut-thaghut, menyembelih binatang untuk tuhan-tuhan mereka,
membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak
menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala.”
Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan
penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata: “Amr bin Luhayyi
keluar Makah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma’ab,
daerah Balqa’, waktu itu tempat tersebut terdapa anak keturunan Amliq
bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mereka menyembah berhala-berhala.
Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah berhala-berhala
yang kamu sembah ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah berhala-berhala yang
kami sembah. Kami meminta hujan kepadanya lalu kami diberi hujan. Kami
minta pertolongan kepadanya lalu kami ditolong.’ Amr bin Luhayyi lalu
berkata lagi: ‘Bolehkah kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku
bawa ke negeri Arab agar mereka [juga] menyembahnya?’ mereka pun
memberikan satu berhala yang bernama Hubal. Lalu Amr membawanya pulang
ke Makkah dan dipasanglah berhala tesebut. Selanjutnya ia memerintahkan
orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.”
Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di
jazirah Arab. Mereka telah meninggalkan aqidah tauhid dan mengganti agam
Ibrahim juga Ismail dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami
kesesatan, meyakini berbagai keyakinan yang keliru, dan melakukan
tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.
Mereka melakukan hal itu semua karena kebodohan, keummian dan
keinginan membalas terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada
di sekitarnya. Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat
orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh pada aqidah tauhid
dan berjalan sesuai dengan ajaran hanifiyah, yaitu meyakini hari
kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada
orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat,
membenci penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan
mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antar
tokoh dan penganut sisa-sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain:
Qais bin Sa’idah al-Ayadi, Ri’ib asy-Syani, dan pendeta Bahira.
Selain itu, dalam tradisi-tradisi mereka juga masih terdapat
“sisa-sisa” prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya kendatipun kian
lama kian berkurang. Karena itu, kejahilan mereka, dalam hal dan keadaan
tertentu, masih ter-shibghah [terwarnai] oleh pengaruh, prinsip-prinsip
dan syiar-syiar hanifiyah sekalipun hal itu hampir tak tampak dalam
kehidupan mereka kecuali sudah dalam bentuknya yang tercemar. Seperti
memuliakan Ka’bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berqurban.
Semua itu merupakan syariat dan warisan peribadahan sejak nabi Ibrahim
as. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesuai dengan ajaran sebenarnya.
Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah.
Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyah-nya mengucapkan: “Aku sambut
[seruan-Mu] ya Allah, aku sambut [seruan-Mu]. aku sambut [seruan-Mu],
tiada sekutu kecuali sekutu yang memang [pantas] bagi-Mu, yang Engkau
dan dia miliki.”
Setelah talbiyah ini mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka.
Setelah talbiyah ini mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka.
Sebagai kesimpulan, pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di
dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya’ Ibrahim as.
Pada mulanya kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya
petunjuk, dan keislaman. Setelah itu, sedikit demi sedikit bangsa Arab
menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun waktu cukup lama, akhirnya
kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan,
kemusyrikan, dan kesesatan pemikiran kendatipun kebenaran rambu-rambu
yang lama masih “bergeliat” dalam sejarah perjalanan mereka secara amat
lamban, semakin lama semakin lemah dan berkurang pendukungnya.
Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi’tsah penutup
para Nabi [Muhammad saw.]. wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan
dan kesesatan yang telah berakar selama rentang zaman tersebut,
kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman tauhid dan
prinsip-prinsip keadilan, di samping menghidupkan kembali “sisa-sisa”
hanifiyah yang ada.
Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikatakan ini merupakan suatu
hal yang jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam.
Akan tetapi untuk masa sekarang ini, kita terpaksa membuang banyak waktu
untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang
sudah jelas karena adanya sebagian orang yang mengalahkan
keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya. Setiap
orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan antara orang yang
meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya dan orang yang meletakkan
aqidahnya di belakang hawa nafsunya.
Kendatipun apa yang dikemukakan di atas sudah jelas, sebagian orang
mengatakan bahwa jahiliyah sudah mulai “menyadari” jalan terbaik yang
harus diikutinya tidak lama sebelum bi’tsah Rasulullah saw. Pemikiran
Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala, dan segala
khurafat jahiliyah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan
bi’tsah Rasulullah saw. dan dakwahnya yang baru.
Makna dari pemikiran ini ialah sejarah jahiliyah semakin terbuka
kepada hakekat-hakekat tauhid dan sinar hidayah. Semakin jauh dari zaman
Ibrahim as. mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwah
Islam sehingga mencapai titik puncak pada bi’tsah Rasulullah saw.
Setiap pengkaji dan pembahas yang obyektif pasti mengetahui bahwa
masa diutusnya Nabi saw. merupakan masa jahiliyah yang paling jauh dari
hidayah dalam dakwah Rasulullah saw. jika dibanding dengan masa-masa
yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa
bi’tsah Nabi saw. tercermin pada percikan-percikan kebencian pada
berhala dan keengganan untuk menyembahnya atau keengganan memolak
nilai-nilai Islam. “Sisa-sisa reruntuhan” ini tidak mencapai
sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka
beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwah dan bi’tsah dalam
pandangan orang-orang tersebut, semestinya bi’tsah Nabi saw. terjadi
beberapa abad sebelumnya.
Ada pula orang mengatakan bahwa ketika Muhammad saw. mampu menghapus
sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual, dan keyakinan yang ada pada
bangsa Arab, beliau berusaha memberikan “baju” agama pada semua hal itu
dan menampilkannya dalam bentuk taklifah Ilahiah. Dengan ungkapan lain,
Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghaibiyah bangsa
Arab, suatu riqabah ‘ulya [pengawasan tertinggi] yang berwujud Ilah yang
Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab
masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa,
sebagaimana halnya mereka masih melakukan thwaf di Ka’bah, memuliakan
dan menunaikan ritual-ritual serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh
berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.
Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari hipotesa. Pertama,
Muhammad saw. bukanlah nabi. Kedua, sisa-sisa hanifiyah dari zaman Nabi
Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita
bahas tadi hanyalah kreasi mereka dan tradisi yang mereka ciptakan
sendiri. Penghormatan kepada Ka’bah dan pengagungannya bukanlah pengaruh
dari Abul anbiya’ Ibrahim as. melainkan hanya merupakan sesuatu yang
diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian ia hanyalah
salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.
Untuk mempertahankan kedua hipotesa itu, mereka terpaksa menolak
semua bukti dan fakta sejarah yang akan membatalkan hipotesa mereka dan
menyatakan kepalsuannya.
Akan tetapi sebagaimana diketahui, pencarian suatu hakekat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apapun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya seperti salah satu bentuk “permainan yang lucu.”
Akan tetapi sebagaimana diketahui, pencarian suatu hakekat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apapun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya seperti salah satu bentuk “permainan yang lucu.”
Kita tidak bisa menolak sama sekali tentang adanya bukti-bukti
kenabian Muhammad saw. yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu,
mukjizat al-Qur’an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para
nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaknya, hanya karena kita
harus menerima hipotesa bahwa Muhammad bukan Nabi.
Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa
Ibrahim telah membangun Ka’bah yang mulia atas perintah dan wahyu dari
Allah yang menyatakan bahwa para nabi secara berantai telah berdakwah
kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan
hari kemudian [kebangkitan], pembalasan, surga dan neraka, yang telah
disebutkan di dalam nash-nash kitab samawi yang telah dibenarkan oleh
sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima suatu
hipotesa yang menyatakan bahwa apa yang disebut “sisa-sisa zaman
Ibrahim” pada masa jahiliyah itu tidak lain hanyalah tradisi-tradisi
yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab dan Muhammad saw. hanya
datang untuk “mengecatnya” dengan “cat agama”.
Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam
ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya
mengemukakan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.
Jika anda memerlukan contohnya, bacalah buku “Sistematika Pemikiran
Agama” yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama
H.A.R.Gibb. di dalam buki ini anda dapat mencium bau fanatisme buta
terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yang saling mendorong
seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan
berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya
supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.
Sitem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah
berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran transendental
yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya kemudian
mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat
dihindarinya, dia telah menutupinya dengan “kain” agama Islam. Ia juga
tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap
agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemusykilan yang besar. Dia
ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab,
melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan
kehidupan agama ini dalam sistem al-Qur’an. Itulah inti pemikiran Gibb
di dalam bukunya tersebut.
Jika anda baca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, dia gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.
Jika anda baca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, dia gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.
Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah
membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang
pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu ia
berkelit dengan mengatakan: “Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang
terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan
pemikiran-pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir
dan kaum Muslimin yang terlalu banyak dikemukakan di sini. Akan tetapi,
penulis sirah ini menyebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu
Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.
Gibb kemudian mengutip satu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (I: 122). Tampaknya dia menyangka bahwa tidak seorangpun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalau dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb:
“Sesungguhnya, Nabi Muhammad saw. diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israil. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.”
Gibb kemudian mengutip satu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (I: 122). Tampaknya dia menyangka bahwa tidak seorangpun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalau dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb:
“Sesungguhnya, Nabi Muhammad saw. diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israil. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.”
Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Ismail untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi saw. diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Ismail mewarisi ajaran bapak mereka [Ismail].
Mereka melaksanakan syariat tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia [Amr bin Luhayyi] mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang bathil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.
Allah lalu mengutus Muhammad saw. untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah saw. meninjau syariat mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Ismail atau syiar-syiar Allah, ditetapkan. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebathilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut.”
“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Ismail untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi saw. diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Ismail mewarisi ajaran bapak mereka [Ismail].
Mereka melaksanakan syariat tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia [Amr bin Luhayyi] mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang bathil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.
Allah lalu mengutus Muhammad saw. untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah saw. meninjau syariat mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Ismail atau syiar-syiar Allah, ditetapkan. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebathilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut.”
Tidak syak lagi bahwa penulis sirah Nabawiyah ini tidak mengemukakan
pendapat “pembahasan” inii untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah
sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Akan tetapi, dimaksudkan
agar pembaca mengentahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi
seseorang. Hal inilah yang ingin penulis Sirah tersebut ingatkan, yaitu
sejauh manakah metodologi dan objektivitas pembahasan ilmuwan Barat yang
oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.
Dari uraian terdahulu, jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan
pemikiran jahiliyah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum
kedatangan Islam. Dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa
jahiliyah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh Ibrahim as.
Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah saw. banyak
menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah
berkembang di kalangan orang Arab. Akan tetapi, pada waktu yang sama,
Rasulullah saw. juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.
Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqadimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah nabawiyah dan meng-istinbath fiqih dan pelajaran-pelajarannya. Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah dikemukakan di atas.
Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqadimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah nabawiyah dan meng-istinbath fiqih dan pelajaran-pelajarannya. Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah dikemukakan di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar