Rabu, 26 Agustus 2015

Jahiliyah dan Sisa - sisa Hanafiyah

Hal ini merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, karena masalah ini mengandung hakekat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.
Secara singkat, hakekat tersebut ialah bahwa Islam hanyalah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abul-anbiya’ [bapak para nabi], Ibrahim as. Hakekat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain:
“Dan berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-sekali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama [millah] orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dulu…”(al-Hajj: 78)
“Katakanlah: ‘Benar [apa yang difirmankan] Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus [hanif], dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imraan: 95)
Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail as. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.
Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.
Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang bani Khuza’ah.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul harits at-Tamimi: Shalih as-Saman menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza’i: “Wahai Aktsam, aku pernah melihat Amr bin Luhayyi bin Qam’ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya di dalam neraka. aku tidak pernah melihat seorang pun mirip [wajahnya] dengannya kecuali kamu.” Aktsam lalu berkata: “Apakah kemiripan rupa tersebut akan membahayakan aku, wahai Rasulallah?” Rasulullah menjawab: “Tidak, sebab kamu Mukmin, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya dia adalah orang yang pertama mengubah agama Ismail as. selanjutnya dia membuat patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada thaghut-thaghut, menyembelih binatang untuk tuhan-tuhan mereka, membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala.”
Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata: “Amr bin Luhayyi keluar Makah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma’ab, daerah Balqa’, waktu itu tempat tersebut terdapa anak keturunan Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mereka menyembah berhala-berhala. Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami meminta hujan kepadanya lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya lalu kami ditolong.’ Amr bin Luhayyi lalu berkata lagi: ‘Bolehkah kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka [juga] menyembahnya?’ mereka pun memberikan satu berhala yang bernama Hubal. Lalu Amr membawanya pulang ke Makkah dan dipasanglah berhala tesebut. Selanjutnya ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.”
Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di jazirah Arab. Mereka telah meninggalkan aqidah tauhid dan mengganti agam Ibrahim juga Ismail dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami kesesatan, meyakini berbagai keyakinan yang keliru, dan melakukan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.
Mereka melakukan hal itu semua karena kebodohan, keummian dan keinginan membalas terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh pada aqidah tauhid dan berjalan sesuai dengan ajaran hanifiyah, yaitu meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, membenci penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antar tokoh dan penganut sisa-sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain: Qais bin Sa’idah al-Ayadi, Ri’ib asy-Syani, dan pendeta Bahira.
Selain itu, dalam tradisi-tradisi mereka juga masih terdapat “sisa-sisa” prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya kendatipun kian lama kian berkurang. Karena itu, kejahilan mereka, dalam hal dan keadaan tertentu, masih ter-shibghah [terwarnai] oleh pengaruh, prinsip-prinsip dan syiar-syiar hanifiyah sekalipun hal itu hampir tak tampak dalam kehidupan mereka kecuali sudah dalam bentuknya yang tercemar. Seperti memuliakan Ka’bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berqurban. Semua itu merupakan syariat dan warisan peribadahan sejak nabi Ibrahim as. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesuai dengan ajaran sebenarnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyah-nya mengucapkan: “Aku sambut [seruan-Mu] ya Allah, aku sambut [seruan-Mu]. aku sambut [seruan-Mu], tiada sekutu kecuali sekutu yang memang [pantas] bagi-Mu, yang Engkau dan dia miliki.”
Setelah talbiyah ini mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka.
Sebagai kesimpulan, pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya’ Ibrahim as. Pada mulanya kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya petunjuk, dan keislaman. Setelah itu, sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun waktu cukup lama, akhirnya kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan, kemusyrikan, dan kesesatan pemikiran kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih “bergeliat” dalam sejarah perjalanan mereka secara amat lamban, semakin lama semakin lemah dan berkurang pendukungnya.
Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi’tsah penutup para Nabi [Muhammad saw.]. wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan dan kesesatan yang telah berakar selama rentang zaman tersebut, kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman tauhid dan prinsip-prinsip keadilan, di samping menghidupkan kembali “sisa-sisa” hanifiyah yang ada.
Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikatakan ini merupakan suatu hal yang jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam. Akan tetapi untuk masa sekarang ini, kita terpaksa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang sudah jelas karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya. Setiap orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan antara orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.
Kendatipun apa yang dikemukakan di atas sudah jelas, sebagian orang mengatakan bahwa jahiliyah sudah mulai “menyadari” jalan terbaik yang harus diikutinya tidak lama sebelum bi’tsah Rasulullah saw. Pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala, dan segala khurafat jahiliyah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi’tsah Rasulullah saw. dan dakwahnya yang baru.
Makna dari pemikiran ini ialah sejarah jahiliyah semakin terbuka kepada hakekat-hakekat tauhid dan sinar hidayah. Semakin jauh dari zaman Ibrahim as. mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwah Islam sehingga mencapai titik puncak pada bi’tsah Rasulullah saw.
Setiap pengkaji dan pembahas yang obyektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Nabi saw. merupakan masa jahiliyah yang paling jauh dari hidayah dalam dakwah Rasulullah saw. jika dibanding dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi’tsah Nabi saw. tercermin pada percikan-percikan kebencian pada berhala dan keengganan untuk menyembahnya atau keengganan memolak nilai-nilai Islam. “Sisa-sisa reruntuhan” ini tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwah dan bi’tsah dalam pandangan orang-orang tersebut, semestinya bi’tsah Nabi saw. terjadi beberapa abad sebelumnya.
Ada pula orang mengatakan bahwa ketika Muhammad saw. mampu menghapus sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual, dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, beliau berusaha memberikan “baju” agama pada semua hal itu dan menampilkannya dalam bentuk taklifah Ilahiah. Dengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghaibiyah bangsa Arab, suatu riqabah ‘ulya [pengawasan tertinggi] yang berwujud Ilah yang Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa, sebagaimana halnya mereka masih melakukan thwaf di Ka’bah, memuliakan dan menunaikan ritual-ritual serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.
Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari hipotesa. Pertama, Muhammad saw. bukanlah nabi. Kedua, sisa-sisa hanifiyah dari zaman Nabi Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi hanyalah kreasi mereka dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka’bah dan pengagungannya bukanlah pengaruh dari Abul anbiya’ Ibrahim as. melainkan hanya merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian ia hanyalah salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.
Untuk mempertahankan kedua hipotesa itu, mereka terpaksa menolak semua bukti dan fakta sejarah yang akan membatalkan hipotesa mereka dan menyatakan kepalsuannya.
Akan tetapi sebagaimana diketahui, pencarian suatu hakekat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apapun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya seperti salah satu bentuk “permainan yang lucu.”
Kita tidak bisa menolak sama sekali tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad saw. yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat al-Qur’an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaknya, hanya karena kita harus menerima hipotesa bahwa Muhammad bukan Nabi.
Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim telah membangun Ka’bah yang mulia atas perintah dan wahyu dari Allah yang menyatakan bahwa para nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan hari kemudian [kebangkitan], pembalasan, surga dan neraka, yang telah disebutkan di dalam nash-nash kitab samawi yang telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima suatu hipotesa yang menyatakan bahwa apa yang disebut “sisa-sisa zaman Ibrahim” pada masa jahiliyah itu tidak lain hanyalah tradisi-tradisi yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab dan Muhammad saw. hanya datang untuk “mengecatnya” dengan “cat agama”.
Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali. Jika anda memerlukan contohnya, bacalah buku “Sistematika Pemikiran Agama” yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama H.A.R.Gibb. di dalam buki ini anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yang saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.
Sitem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran transendental yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan “kain” agama Islam. Ia juga tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemusykilan yang besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem al-Qur’an. Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut.
Jika anda baca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, dia gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.
Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu ia berkelit dengan mengatakan: “Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran-pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak dikemukakan di sini. Akan tetapi, penulis sirah ini menyebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.
Gibb kemudian mengutip satu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (I: 122). Tampaknya dia menyangka bahwa tidak seorangpun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalau dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb:
“Sesungguhnya, Nabi Muhammad saw. diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israil. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.”
Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Ismail untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi saw. diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Ismail mewarisi ajaran bapak mereka [Ismail].
Mereka melaksanakan syariat tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia [Amr bin Luhayyi] mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang bathil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.
Allah lalu mengutus Muhammad saw. untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah saw. meninjau syariat mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Ismail atau syiar-syiar Allah, ditetapkan. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebathilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut.”
Tidak syak lagi bahwa penulis sirah Nabawiyah ini tidak mengemukakan pendapat “pembahasan” inii untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Akan tetapi, dimaksudkan agar pembaca mengentahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang. Hal inilah yang ingin penulis Sirah tersebut ingatkan, yaitu sejauh manakah metodologi dan objektivitas pembahasan ilmuwan Barat yang oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.
Dari uraian terdahulu, jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliyah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum kedatangan Islam. Dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa jahiliyah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh Ibrahim as.
Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah saw. banyak menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah berkembang di kalangan orang Arab. Akan tetapi, pada waktu yang sama, Rasulullah saw. juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.
Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqadimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah nabawiyah dan meng-istinbath fiqih dan pelajaran-pelajarannya. Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah dikemukakan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar