Ketika kabar wafatnya Rasulullah saw. diumumkan, Abu Bakar
ash-Shiddiq ra. baru datang dari Sanh (di tempat itulah tinggal istri
Abu Bakar ra: Habibah binti Kharijah), sebuah daerah dekat Madinah.
Kemudian ia membuka penutup wajah Rasulullah saw. dan mencium kening
beliau seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan, engkau adalah
suci baik ketika masih hidup maupun setelah wafat.”
Abu Bakar menutup wajar Rasulullah saw. kemudian berdiri naik ke
mimbar, lalu menyadarkan orang-orang, “Siapa saja di antara kalian yang
menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwasannya Muhammad telah
meninggal. Dan siapa saja di antara kalian yang menyembah Allah, maka
ketahuilah bahwasannya Allah Mahahidup, tidak akan pernah mati.” Lalu ia
membacakan firman Allah [yang artinya]:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” (Ali ‘Imraan: 144)
Lalu mulailah para shahabat menangis terisak-isak. Mereka keluar ke
jalan-jalan seraya mengulang-ulang ayat tersebut. Anas ra. berkata,
“Seolah-olah kami belum pernah mendengar ayat ini kecuali saat itu.”
Padahal al-Qur’an telah sempurna pada zaman Rasulullah saw. sebelum
wafat. Walaupun demikian, ayat ini seolah-olah baru bagi mereka, dan itu
disebabkan dahsyatnya musibah wafatnya Nabi saw.
Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, ‘Ali bin Abu Thalib dan al-Fadhl bin
al-‘Abbas, yang dibantu oleh shahabat lain memandikan dan mengkafani
Rasulullah saw. Kemudian beliau dishalatkan dan dikebumikan. Pengurus
jenazah Nabi saw seperti itu karena al-‘Abbas adalah paman beliau, serta
‘Ali dan al-Fadhl adalah sepupu beliau. Maka merekalah yang paling
berhak mengurus jenazah beliau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar