Minggu, 23 Agustus 2015

Rahasi Dipilihnya Arabia sebagai Tempat Kelahiran dan Pertumbuhan Islam

Untuk menjelaskan hal ini, kita harus tahu karakteristik bangsa Arab dan tabiat mereka sebelum Islam, juga menggambarkan letak geografis tempat mereka hidup dan posisinya di antara negara-negara di sekitarnya. Sebaliknya, kita juga harus menggambarkan kondisi peradaban dan kebudayaan umat-umat lain pada waktu itu, seperti Persia, Romawi, Yunani dan India.
Kita mulai dengan menyajikan secara singkat kondisi umat-umat yang hidup di sekitar Jazirah Arab sebelum Islam. Pada wakut itu, dunia dikuasai oleh dua negara adidaya: Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani.
Persia adalah ladang subur berbagai khayalan [khurafat] keagamaan dan filosofis yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zoroaster yang dianut oleh kaum penguasa. Di antara falsafahnya adalah mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya, atau saudaranya sehingga Yazdasir II yang memerintah pada abad kelima Masehi mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam sehingga tidak bisa disebut di sini.
Di Persia, juga terdapat ajaran Mazdakia, yang menurut Imam Syahrustani, didasarkan pada falsafah lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta dan menjadikan manusia sebagai serikat seperti perserikatan mereka dalam masalah air, api, dan rumput. Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari kaum pengumbar hawa nafsu.
Sementara itu, Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan naif demi mengembangkan agama Kisten dan memainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsu yang serakah.
Pada waktu yang sama negeri ini tak kalah bejatnya dengan Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral, dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, akibat dari melimpahnya penghasilan dan menumpuknya pajak.
Seperti halnya Yunani, negeri ini tenggelam dalam lautan khurafat dan mitos-mitos verbal yang tidak pernah memberinya manfaat. Demikian pula India, sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Abul Hasan an-Nadawi, telah disepakati oleh para penulis sejarahnya, bahwa negeri ini sedang berada di puncak kebobrokan dari segi agama, akhlak, ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad keenam Masehi. India bersama negara tetangganya berandil dalam kemerosotan moral dan sosial…
Disamping itu harus diketahui bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan, dan kenestapaan pada umat-umat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai materialistik semata, tanpa adanya nilai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar. Seperti halnya peradaban berikut sebagai implikasi dan penampilannya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrumen. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, peradaban yang ada di tangan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancuran. Akan tetapi jika pemegangnya memiliki pemikiran yang benar, yang hanya bisa diperoleh melalui wahyu Ilahi, seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan yang bahagia penuh dengan rahmat di segala bidang.
Sementara itu di Jazirah Arab, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan, dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain; masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri dan kesucian.
Hanya saja mereka tidak memiliki ma’rifat [pengetahuan] yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu karena mereka hidup di dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrah yang pertama. akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.
Selanjutnya mereka membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan, dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Kondisi inilah yang diungkapkan oleh Allah dengan dlalal ketika menyifati dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang yang sesat.” (al-Baqarah: 198)
Suatu sifat, apabila dinisbatkan kepada kondisi umat-umat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukkan kepada i’tidzar [excuse] daripada kecaman, celaan, dan hinaan kepada mereka. Ini dikarenakan umat-umat lain tersebut melakukan penyimpangan-penyimpangan terbesar dengan “bimbingan” sorot peradaban, pengetahuan, dan kebudayaan. Mereka terjerembab ke dalam kubang kerusakan dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan pemikiran.
Di samping itu, Jazirah Arab secara geografis terletak di antara umat-umat yang sedang dilanda pergolakan.
Bila diperhatikan sekarang, seperti dikatakan oleh Ustadz Muhammad Mubarak, akan diketahui betapa Jazirah Arab terletak di antara dua peradaban. Pertama, peradaban barat yang materialistis telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh; kedua, peradaban spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti umat-umat yang hidup di India, Cina dan sekitarnya.
Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah berkenan menentukan Jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran Rasulullah saw. dan kerasulannya, dan mengaba bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju agama Islam yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah semata.
Jadi bukan seperti dikatakan oleh sebagian orang yang karena memiliki agama bathil dan peradaban palsu, mereka sulit diluruskan dan diharapkan karena kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sementara itu, orang-orang yang masih hidup “di masa pencarian”, mereka tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Dengan demikian, mereka lebih mudah disembuhkan dan diarahkan. Kami tegaskan, bukan hanya ini yang menjadi sebab utamanya. Analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuannya terbatas dan orang yang memiliki potensi.
Analisis seperti tersebut di atas membedakan antara yang mudah dan yang sulit, kemudian diutamakan yang pertama dan dihindari yang kedua karena ingin menuju jalan kemudahan dan tidak menyukai kesulitan.
Jika Allah mengehendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi, atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini, Allah swt. mempersiapkan berbagai prasarana di negeri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkannya di jazirah Arabia. Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya karena Dia Pencipta segala sesuatu, Pencipta segala sarana termasuk sebab.
Akan tetapi, hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasulullah saw. seorang ummi, tidak bisa menulis dengan tangan kanannya, menurut istilah Allah, dan tidak pula bisa membaca agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya, agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap kebenaran dakwahnya.
Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah jika bi’ah [lingkungan] tempat diutusnya Rasulullah saw. dijadikan juga sebagai bi’ah ummiyah [lingkungan yang ummi] bila dibandingkan dengan umat-umat lain yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula sistem pemikirannya tidak tersentuh sama sekali oleh filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitarnya.
Dikhawatirkan akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi saw. itu seorang terpelajar dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu dan semua peradaban negara-negara di sekitarnya. Dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala mereka melihat munculnya dakwah Islamiyah di antara dua umat yang memiliki peradaban budaya dan sejarah, seperti negara Persia, Yunani, atau Romawi. Hal ini karena orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagi mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosofis yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna.
Al-Qur’an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas. Firman Allah:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mereka diajar akan kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)
Allah telah menghendaki Rasul-Nya seorang ummi dan kaum dimana Rasul itu diutus juga kaum secara mayoritas ummi agar mukjizat kenabian dan syariat Islamiyah menjadi jelas di dalam fikiran, tidak ada pembauran di antara dakwah Islam dengan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam. Ini, sebagaimana tampak jelas, merupakan rahmat yang besar bagi hamba-Nya. Selain itu ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencarinya. Hikmah-hikmah tersebut sebagai berikut:
1. Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan rumah yang pertama kali dibangun bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syiar-syiar agama. Allah juga telah menjadikan dakwah bapak para Nabi, Ibrahim ‘alaihis salam, di lembah tersebut. Semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene adalah milah Ibrahim dan menjadi tempat diutus dan lahirnya penutup para Nabi. Bagaimana tidak, sedangkan dia termasuk keturunan Ibrahim as.
2. Secara geografis, jazirah Arabia akan sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini karena jazirah ini terletak, seperti telah disebutkan, di bagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya. Posisi geografis ini akan menjadikan penyebaran dakwah Islam ke semua bangsa dan negara di sekitarnya berjalan dengan gamblang dan lancar. Bila kita perhatikan kembali sejarah dakwah Islam pada permulaan Islam dan pada masa pemerintahan para khalifah yang terpimpin, niscaya kita akan mengakui kebenaran hal ini.
3. Sudah menjadi kebijaksanaan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam dan media langsung untuk menerjemahkan kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa, lalu kita bandingkan antara yang satu dengan yang lain, niscaya akan kita temukan bahwa bangsa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Karena itu, sudah sepatutnya jika bahasa Arab dijadikan bahwa pertama bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar