Rabu, 26 Agustus 2015

Penghargaan Kaum Hawa dalam AL - Quran

Terdapat banyak dalam Perjanjian Lama dari Kitab Al-Muqaddas hal-hal yang mewasiatkan agar berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua dan berhati-hati dari menyakiti keduanya.
“Setiap orang yang mencaci bapak atau ibunya maka akan dibunuh”. (Lawien 20: 9),
“Anak yang bijaksana (pintar) akan menggembirakan bapaknya dan anak yang bodoh akan dibenci ibunya”. (Amtsaal 15: 1).
Dengan hanya memuliakan seorang bapak, disebutkan di beberapa bagian:
“Anak yang bijaksana (pandai) menerima pendidikan ayahnya dan yang mengejek dia tidak mendengarkan teguran”. (Amtsaal 13: 1).
Demikian juga tidak pernah terdapat penguat terhadap kebaikan-kebaikan ibu sebagai penghargaan untuknya atas jerih payah, kesusahan dalam mengandung, melahirkan dan menyusui. Dan ibu tidak mewarisi anak-anaknya di mana bapak dapat mewarisi mereka. (Epstein, op. cit., p. 122.)
Adapun Perjanjian Baru, dia tidak memuliakan ibu secara mutlak bahkan dia mengkategorikan berbakti pada ibu adalah rintangan dalam perjalanan menuju Tuhan. Berdasarkan Perjanjian Baru, orang Masihi tidak dianggap mengikuti al-Masiih (Isa as.) kecuali jika dia membenci ibunya. Dan terdapat perkataan yang dinisbatkan kepada al-Masiih:
“Jika seseorang datang kepada saya dan dia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya dan saudari-saudarinya hingga dirinya juga, maka dia tidak mampu untuk menjadi muridku”. (Luqas 14: 26).
Ditemukan dalam Perjanjian Baru bagian yang menjelaskan bahwa al-Masiih (Isa as.) buruk perlakuannya terhadap ibunya. Sebagai contoh, ketika ibunya mencari dia, sedangkan dia tengah mengajar orang banyak maka dia tidak memperhatikan untuk pergi kepada ibunya.
“Maka datanglah pada waktu itu saudara-saudara dan ibunya dan mereka berdiri di luar dan mereka mengutus seseorang untuk memanggil al-Masiih. sekumpulan orang yang duduk di sekitarnya mereka berkata: “Itu ibumu dan saudara-saudaramu di luar mencarimu”. Lalu dia menjawab perkataan mereka dengan suatu ucapan: “Siapa ibuku dan saudara-saudaraku?” Kemudian dia memperhatikan sekelilingnya dan berkata: “Ini ibuku dan saudara-saudaraku”. Karena siapa yang berbuat sesuai kehendak Allah adalah saudaraku, saudariku, dan ibuku”. (Markus 3: 31-35).
Boleh saja seseorang menjawab tentang hal ini dengan mengatakan bahwasanya pelajaran mengenai agama lebih penting dari keluarga. Akan tetapi, bisa saja al-Masiih menyampaikan pelajaran tanpa menyia-nyiakan ibunya seperti ini. Dan terdapat bagian yang lain yang mengatakan bahwasanya Al-Masiih tidak sepakat dengan apa yang dikatakan oleh seorang perempuan dari pengikutnya bahwasanya ibunya mempunyai kemuliaan yang besar karena dia telah melahirkannya dan mendidiknya.
“Dan ketika dia (Al-Masiih) mengatakan hal ini, seorang perempuan dari perkumpulan mengangkat suaranya dan berkata kepada Al-Masiih: “Berbahagialah perut yang telah mengandungmu dan kedua payudara yang engkau telah menyusu pada keduanya”. Maka al-Masiih berkata: “Bahkan senanglah orang-orang yang mendengarkan kalam Allah dan mereka menghafalnya”. (Lukas 11: 27-28).
Jika seorang perempuan yang mulia seperti Siti Maryam (yang perawan) diperlakukan dengan perlakuan seperti ini oleh anaknya yang mulia seperti al-Masiih, maka bagaimana tanggapanmu terhadap ibu yang orang biasa dan anak orang biasa? Adapun dalam Islam maka kemuliaan, penghormatan dan penghargaan terhadap ibu tiada bandingnya. Karena al-Qur`an mewasiatkan untuk berbuat baik (berbakti) kepada kedua orangtua setelah ibadah kepada Allah Swt.:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam memeliharamu. Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah pada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil””. (QS. Al-Israa`: 23-24).
Dan beberapa juz al-Qur`an telah menguatkan tentang pentingnya posisi (periode) ibu yang mulia: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14).
Kemudian Rasulullah Muhammad Saw. telah menggambarkan posisi ibu dalam Islam dengan keunggulan, telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw. lalu berkata:
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku bergaul dengannya dengan baik?” Rasulullah menjawab: “Ibumu…!”, lalu laki-laki itu berkata: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian ibumu…”, kemudian ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian ibumu…”, lalu ia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah Saw. menjawab: “Kemudian bapakmu”. (HR Bukhari dan Muslim).
Setiap orang muslim sangat memperhatikan untuk senantiasa bergaul dengan baik kepada ibunya. Dan orang barat selalu heran (ta`jub) terhadap hubungan harmonis yang terjalin antara ibu yang muslimah dengan anak-anaknya dan penghormatan anak-anaknya yang tinggi terhadapnya. (Armstrong, p. 8)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar