Minggu, 23 Agustus 2015

Rasulullah SAW sebagai penutup para Nabi

Muhammad saw. adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum Muslimin dan merupakan satu “aksioma” Islam.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengitarinya, mereka kagum dan berkata: ‘Amboi, jika batu bata ini diletakkan?’ Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para Nabi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hubungan antara dakwah Nabi Muhammad saw. dan dakwah Nabi terdahulu berjalan di atas prinsip ta’kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan) sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Dakwah para nabi didasarkan pada dua asas. Pertama, aqidah. Kedua, syariat dan akhlak. Aqidah mereka sama: dari Nabi Adam as. sampai kepada penutup para Nabi (Muhammad saw.). esensi aqidah mereka adalah iman kepada wahdaniyah Allah. Menyucikan Allah dari segala perbuatan dan sifat yang tidak layak bagi-Nya. Beriman kepada hari akhir, nisab, neraka dan surga. Setiap nabi mengajak kaumnya untuk mengimani perkara tersebut. Masing-masing dari mereka datang sebagai pembenaran atas dakwah sebelumnya sebagai kabar gembira akan bi’tsah Nabi sesudahnya. Demikianlah bi’tsah mereka saling menyambung kepada berbagai kaum dan umat. Semuanya membawa hakekat yang diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia, yaitu dainunaH lillaaHi wahdaH (tunduk patuh kepada Allah semata). Inilah yang dijelaskan Allah dengan firman-Nya:
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama, dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.” (asy-Syuura: 13)
Tidak mungkin akan terjadi perbedaan aqidah di antara dakwah-dakwah para Nabi karena masalah aqidah termasuk ikhbar [pengabaran]. Pengabaran tentang sesuatu tidak mungkin akan berbeda antara satu pengabar dengan pengabar yang lain jika kita yakini kebenaran khabar yang dibawanya. Tidak mungkin seorang nabi diutus untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah adalah salah seorang dari yang tiga [Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan]. Setelah itu, diutus nabi lain yang datang sesudahnya untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah Mahasatu, tiada sekutu bagi-Nya, padahal masing-masing dari kedua nabi itu sangat jujur, tidak akan pernah berkhianat tentang apa yang dikabarkannya.
Dalam masalah syariat, yaitu penetapan hukum yang bertujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi, telah terjadi perbedaan menyangkut cara dan jumlah antara satu nabi dengan nabi yang lainnya karena syariat termasuk dalam kategori insya’, bukan ikhbar sehingga berbeda dengan masalah aqidah. Selain itu, perkembangan zaman dan perbedaan umat atau kaum akan berpengaruh terhadap perkembangan syariat dan perbedaannya karena prinsip penetapan hukum didasarkan pada tuntunan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Di samping bi’tsah setiap nabi sebelum Rasulullah saw. adalah khusus bagi umat tertentu, bukan untuk semua manusia, hukum-hukum syariatnya hanya terbatas pada umat tertentu, sesuai dengan kondisi umat tersebut.
Musa as. misalnya, diutus kepada bani Israil. Sesuai dengan kondisi bani Israil pada waktu itu. Mereka memerlukan syariat yang ketat yang seluruhnya didasarkan atas azas ‘azimah, bukan rukhsah. Setelah bebarapa kurun waktu, diutuslah Nabi Isa as. kepada mereka dengan membawa syariat yang dibawa oleh Nabi Musa. Perhatikanlah firman Allah melalui Isa as. yang ditujukan kepada bani Israil:
“….Dan [aku datang kepadamu] membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu…” (Ali Imraan: 50)
Nabi Isa as. menjelaskan kepada mereka bahwa menyangkut masalah-masalah aqidah, ia hanya membenarkan apa yang telah tertera di dalam kitab Taurat, menegaskan dan memperbarui dakwah kepada mereka. Jika menyangkut masalah syariat dan hukum halal haram, ia telah ditugaskan untuk mengadakan beberapa perubahan, penyederhanaan, dan menghapuskan sebagian hukum yang pernah memberatkan mereka. Sesuai dengan ini, bi’tsah setiap Rasul membawa aqidah dan syariat.
Dalam masalah aqidah, tugas setiap nabi tidak lain hanyalah menegaskan kembali [ta’kid] aqidah yang sama yang pernah dibawa oleh para Rasul sebelumnya, tanpa perubahan atau perbedaan sama sekali.
Dalam masalah syariat, setiap Rasul menghapuskan syariat sebelumnya, kecuali hal-hal yang ditegaskan oleh syariat yang datang kemudian, atau didiamkannya. Ini sesuai dengan madzab orang yang mengatakan bahwa syariat umat sebelum kita adalah syariat bagi kita [juga] selama tidak ada [nash] yang dapat menghapusnya.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa tidak ada sesuatu yang disebut orang dengan Adyan Samawiyah (agama-agama langit). Yang ada hanyalah syariat-syariat Samawiyah (langit), dimana setiap syariat yang baru menghapus syariat sebelumnya, sampai datang syariat terakhir yang dibawa oleh penutup para nabi dan Rasul.
Ad-Dinul Haq hanya satu, yakni Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya dan memerintahkan kepada manusia untuk tunduk (dainunah) kepadanya, sejak Nabi Adam sampai Muhammad saw.
Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ya’qub diutus dengan membawa Islam. Firman Allah:
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh. ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 130-132)
Musa as. diutus kepada bani Israil juga dengan membawa Islam. Firman Allah tentang tukang-tukang sihir Fir’aun:
“Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah Kami kembali. dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (al-A’raaf: 125-126)
Demikian pula Isa as. ia diutus dengan membawa Islam. Firman Allah:
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang Muslim [yang berserah diri].” (Ali Imraan: 52)
Mungkin timbul pertanyaan, mengapa orang-orang yang menganggap dirinya pengikut Musa as. menganut aqidah yang berbeda dari aqidah tauhid yang dibawa oleh para Nabi? Mengapa orang-orang yang menganggap dirinya pengikut Isa as. meyakini aqidah lain? Jawaban atas pertanyaan ini terdapa dalam firman Allah:
“Sesungguhnya agama [yang diridlai] di sisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian [yang ada] di antara mereka…” (Ali Imraan: 19)
“Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.” (asy-Syuura: 14)
Dengan demikian semua nabi diutus dengan membawa Islam yang merupakan agama di sisi Allah. Para Ahli Kitab mengetahui kesatuan agama ini. Mereka juga mengetahui bahwa para nabi diutus untuk saling membenarkan dalam hal agama yang diutusnya. Mereka [para nabi] tidak pernah berbeda dalam masalah aqidah. Akan tetapi, para ahli kitab sendiri terpecah belah dan berdusta atas nama para Nabi kendatipun telah datang pengetahuan tentang hal ini kepada mereka karena kedengkian di antara mereka, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar