Untuk menyebutkan sifat-sifat neraka dan kengeriannya, tidak seorang
pun di antara kita mampu menyifati api neraka dengan nyala api di suatu
tempat tertentu yang panasnya dapat mencapai jarak sekitar seratus meter
[panjang maupun lebarnya]. Bagaimanapun sifat itu tetap kurang
sempurna. Jika melihat api kebakaran dari jauh, kita hanya akan melihat
api setelah membakar benda-benda yang ada di sekitarnya, baik dari
bawah, atas, kanan maupun kirinya.
Coba lihat kebakaran yang terjadi di rumah-rumah, pabrik, dan ladang
atau sawah, lalu lihatlah para petugas pemadam kebakaran. Berapa jumlah
mereka? berapa mobil pemadam kebakaran. Berapa jumlah mereka? berapa
mobil pemadam yang harus disediakan untuk memadamkan kebakaran itu?
Dengan peralatan dan petugas yang disediakan begitu banyak, waktu yang
dibutuhkan untuk memadamkan kebakaran mungkin lama atau berjam-jam.
Lihat pula kebakaran yang terjadi di hutan, yang memerlukan banyak
petugas pemadam kebakaran, peralatan, dan berhari-hari untuk
memadamkannya. Usaha tersebut kadang berhasil dan kadang gagal sehingga
kebakaran terus terjadi berbulan-bulan.
Ini baru di dunia, di sebagian tempat kecil yang ada di bumi. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits, api di dunia ini tidak lebih dari sepertujuhpuluh dari api neraka.
Ini baru di dunia, di sebagian tempat kecil yang ada di bumi. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits, api di dunia ini tidak lebih dari sepertujuhpuluh dari api neraka.
Rasulullah saw. bersabda, “Api kalian [yang ada di dunia ini] hanya
sepertujuhpuluh dari panas api neraka jahanam.” Para shahabat berkata,
“Ya Rasulallah, api di dunia ini sudah cukup panas.” Beliau bersabda
lagi, “Api di dunia ini ditambah dengan enam puluh sembilan kali lagi
dengan panas yang sama.” (HR Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan matahari kita yang menyinari bumi dengan cahaya
dan panasnya? Para ahli astronomi mengatakan bahwa matahari mempunyai
lidah api yang menjilat-jilat hingga jaraknya mencapai 150 juta km dari
bumi. Lidah api itu keluar dari setiap sisinya. Jika tidak, bagaimana
cahaya dan panasnya dapat sampai ke bumi? Padahal, jarak bumi ke
matahari sekitar 94 juta mil. Matahari itu sangat besar, kira-kira
volumenya mencapai 1.306.000 kali volume bumi. Sedangkan matahari dan
bulan hanya bagaikan dua api berkobar yang cahayanya pudar id sudut atau
pojok neraka.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Matahari dan
bulan adalah dua api berkobar yang akan pudar cahayanya di neraka.” (HR
Baihaqi)
Bayangkan api, neraka, dan api yang ada di neraka jahanam! Bayangkan pula jika neraka menjadi tempat tinggal yang terakhir!
Jika matahari digulung dan dilemparkan ke dalam neraka, lalu
bagaimana panas api neraka itu? Jika tempat duduk orang kafir di neraka
sejauh antara Makkah dan Madinah atau kira-kira 400 km, lalu seberapa
besarnya? Bayangkan penghuninya dan jumlah mereka, yang semua kulitnya
terbakar, lalu Allah mengganti kulit mereka dengan kulit yang lain, dan
begitulah seterusnya !
Allah swt telah menyifati perkara kiamat dan kedahsyatannya dengan
menyebutkan perkara neraka jahanam, yang tidak menyerupai sesuatu pun.
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan
hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah
semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan
gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia
dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi
azab Allah itu sangat kerasnya.” (al-Hajj: 1-2)
Kata “besar” yang terdapat dalam ayat “suatu kejadian yang sangat
besar [dahsyat]” bagi Allah bukanlah bermakna “besar” dalam pemahaman
manusia kerena sering kali manusia mengatakan suatu perkara yang
sederhana dan kecil dengan ungkapan “besar”.
Dalam sebagian hadit, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seandainya
setetes zaqqum [pohon yang menjadi makanan penghuni neraka] jatuh ke
dunia, tentu akan merusak kehidupan manusia.”
Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. membaca ayat, “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar
takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu sekali-sekali mati, melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (Ali Imraan: 102)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya setetes
zaqqum [pohon yang menjadi makanan penghuni neraka] itu menetesi rumah
di dunia, tentu kehidupan penduduk dunia akan rusak. Lalu bagaimana
dengan makanannya [jika terjatuh ke dunia]?” (HR Turmudzi)
Allah lebih mengetahui api neraka jahanam, sa’ir, saqar, huthamah,
dan yang lainnya. Dia juga lebih mengetahui keadaan para penghuninya
serta perkara mereka. oleh karena itu, neraka tidak mempunyai sifat lain
yang telah disebutkan Allah dan rasul-Nya. Tidak pula neraka itu
memiliki sebutan selain yang telah disebutkan oleh Allah swt dan
rasul-Nya. Allah swt adalah pencipta api neraka dan Dia lebih mengetahui
kekuatan panasnya dan dari apa ia dinyalakan. Api itu tidak akan pernah
padam selamanya.
Adapun di dunia meskipun api yang berasal dari kebakaran itu sangat
besar dan terjadi di hutan yang luas dan lebat, dengan berjuta-juta
pohon, pada suatu hari nanti akan padam karena kehabisan bahan bakar,
seperti pohon dan tanaman lainnya. Akan tetapi api neraka jahanam tidak
akan pernah padam dan berkurang panasnya, bahkan bertambah.
“…. setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (al-Isra’: 97)
Bayangkan bahwa bahan bakar api neraka itu adalah manusia dan batu,
selamanya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia
dan batu…” (at-Tahrim: 6)
Bahan bakar api neraka adalah manusia kafir dengan jumlahnya yang
banyak dan mengerikan serta tubuh mereka yang besar, yang berasal dari
daging dan lemak mereka yang mengembang [melepuh] dan menyala tanpa ada
habisnya. Lalu, nyala dan panas api itu bertambah, bahkan lidah apinya
pun makin menjilat-jilat.
Penggambaran neraka dan manusia yang menyala di dalamnya, setiap kali
kulit mereka matang, Allah swt menggantinya dengan kulit yang lain
[baru] merupakan perkara yang tidak masuk akal, tidak terpikirkan akal
atau terbayangkan. Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi selamanya, tanpa
henti, dan terjadi selama ribuan, bahkan triliunan tahun?
Jika anda mengatakan bahwa hal ini khusus untuk orang-orang kafir dan
apa yang mereka tunggu adalah siksa yang sangat pedih, mereka akan
mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt: “….orang-orang
kafir itu berkata, ‘Ini [al-Qur’an] tidak lain hanyalah dongengan
orang-orang terdahulu.’” (al-An’am: 25)
Janji Allah itu benar [pasti terjadi], mereka [orang-orang kafir]
akan mengatakan sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur’an:
“Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan)
ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu
kala!”. (al-Mu’minun: 83)
Jika anda mengatakan kepada mereka [orang-orang kafir] untuk bertakwa
kepada Allah swt dan takut terhadap hari kiamat, kebangkitan, hisab,
dan neraka, mereka akan mengatakan, sebagaimana yang telah disebutkan:
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
“Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami tidak akan dibangkitkan,” (ad-Dukhaan: 35)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Membaca Blog Saya, Silahkan Tinggalkan Komentar